Tuesday, 1 March 2016

Silk Road (Jalur Sutera)

Silk Road (Jalur Sutera)

Jalur Sutra (Hanzi tradisional: 絲綢之路; Hanzi yang Disederhanakan: 丝绸之路; pinyin: sī chóu zhī lù, bahasa Persia راه ابریشم Râh-e Abrisham) adalah sebuah jalur perdagangan melalui Asia yang menghubungkan antara Timur dan Barat dengan dihubungkan oleh pedagang, pengelana, biarawan, prajurit, nomaden dengan menggunakan karavan dan kapal laut, dan menghubungkan Chang'an, Republik Rakyat Tiongkok, dengan Antiokhia, Suriah, dan juga tempat lainnya pada waktu yang bervariasi. Pengaruh jalur ini terbawa sampai ke Korea dan Jepang. Pertukaran ini sangat penting tak hanya untuk pengembangan kebudayaan Cina, India dan Roma namun juga merupakan dasar dari dunia modern. Istilah 'jalur sutra' pertama kali digunakan oleh geografer Jerman Ferdinand von Richthofen pada abad ke-19 karena komoditas perdagangan dari Cina yang banyak berupa sutra

Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM. Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun, serat sutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.
Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih, di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra. Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan. Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis. Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima gaji dan hadiah sutra.

Rute Jalur Sutera
Jalan Sutra yang lazim disebut orang adalah jalur darat dari Chang’an, ibukota Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka oleh seorang jenderal bernama Zhang Qian. Di samping jalur utama, Jalan Sutra itu mempunyai dua anak jalur yang masing-masing terletak di bagian utara dan selatan. Di antaranya, jalur selatan bertolak dari Dunhuang, Propinsi Gansu Tiongkok Barat Laut terus menuju ke barat menyusuri jalan di kaki Pegunungan Kunlun terus sampai ke Xinjiang, Tiongkok Barat Laut dan bagian timur laut Afghanistan, Iran dan Semenanjung Arab sebelum mencapai Roma, Italia. Sedangkan Jalan Sutra sektor utara dimulai dari Benteng Yumen, Dunhuang terus ke barat menyusuri jalan di kaki selatan Gunung Tianshan. Setelah melewati Gunung Chongling, Jalan Sutra Utara itu memasuki wilayah Rusia di bagian Asia Tengah, kemudian jalan itu membelok ke barat daya untuk bergabung dengan Jalan Sutra sektor selatan. Kedau jalur Jalan Sutra itu disebut sebagai “Jalan Sutra Darat”.
Selain itu masih ada dua jalan sutra yang jarang diketahui orang. Salah satu di antaranya ialah “Jalan Sutra Barat Daya” yang bertolak dari Propinsi Sichuan, Tiongkok Baratdaya terus ke Propinsi Yunnan dan mencapai bagian utara Myanmar setelah menyeberang sebuah sungai, kemudian jalan sutra itu menuju bagian timur laut India sebelum memasuki bagian barat laut India dengan menyusuri Sungai Gangga India sebelum tiba di Dataran Tinggi Iran. Jalan Sutra itu bersejarah lebih lama daripada Jalan Sutra Darat. Tahun 1986, para arkeolog menemukan petilasan Sanxingdui yang misterius di Guanghan, Propinsi Sichuan. Di petilasan yang sejarahnya dapat dilacak sampai tiga ribu tahun yang lalu, ditemukan sekelompok benda budaya yang berhubungan dengan kebudayaan Asia Barat dan Yunani. Di antaranya terdapat sebuah tongkat emas yang panjangnya 142 sentimer, sebatang “pohon dewa” dengan ketinggian 4 meter dan patung manusia tembaga, kepala tembaga dan maskot tembaga. Para ahli berpendapat bahwa benda-benda budaya itu mungkin memasuki Tiongkok dalam pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Apabila pandangan itu benar, maka jalan sutra itu dapat dikatakan sudah terbentuk jauh pada tiga ribu tahun yang lalu.
Selain jalan-jalan sutra di darat itu, masih terdapat satu lagi jalan sutra di atas laut, yaitu dari Guangzhou, Tiongkok Selatan ke Selat Malaka, dan terus sampai ke Sri Lanka, India dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai Jalan Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika Timur, dapat diketahui bahwa Jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa Dinasti Song Tiongkok.
“Jalan Sutra Laut” menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong maju pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra Laut juga dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat. Menurut catatan sejarah, Marco Polo dari Italia justru berkunjung ke Tiongkok dari Jalan Sutra Laut. Dalam perjalannya kembali ke Italia dengan naik kapal, ia pun bertolak dari Quanzhou, Propinsi Fujian Tiongkok Tenggara dengan menyusuri jalan tersebut.

Perdagangan Sutra
Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja, Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan ‘amino-acid racemization’, mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE, March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.
Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres, Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300 denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi Romawi.
Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan, kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang, sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.

Jalur sutera adalah jalur perdagangan panjang yang melintasi 2 benua yang menjadi pertukaran budaya,asimilasi penduduk dan perkembangan ekonomi daerah-daerah yang dilewatinya.

Saturday, 13 February 2016

Perang Salib (Crusades)

CRUSADES (Perang Salib)

Perang perebutan Yerusalem
Perang perebutan tanah ziarah 3 agama, Yudaisme,Kristen dan Islam
Perang korup,intrik dan saling khianat dari masing-masing pihak
Perang terpanjang yang berlangsung 4 abad dari 1.096 - 1.487
Perang perebutan wilayah, kekayaan, politik dari para raja,tuan tanah dan sultan

Ada beberapa yang bisa kita pelajari mulai dari kronogis sampai cerita kepahlawanan dan persahabatan yang terkenal dari pihak yang bertikai raja Richard The Lion Heart dari Inggris dan raja Sallahudin Al-Ayyubi dari Mesir.

Awal Mula
Pada tahun 1095 Paus Urbanus II di Roma menerima seorang utusan Kaisar Bizantium Alexius I dari Konstantinopel yang mencari bantuan darurat untuk menghadapi ancaman bangsa Turk. Paus tersebut bertindak segera dan melangsungkan suatu perang salib dengan tujuan mengamankan akses menuju tempat-tempat suci. Sejarawan Paul Everett Pierson mengatakan kalau ia juga "berharap bahwa jika para tentara salib membantu Gereja Timur dengan mengalahkan bangsa Turk, Gereja akan bersatu kembali di bawah kepemimpinannya." Karena terinsiprasi oleh khotbah Paus Urbanus II, Peter sang Pertapa memimpin sebanyak 20.000 orang, sebagian besar petani, menuju Tanah Suci tak lama setelah Paskah tahun 1096. Ketika mereka tiba di Jerman pada musim semi tahun 1096, unit-unit tentara salib memulai pembantaian Rhineland di kota Speyer, Worms, Mainz, dan Cologne, kendati ada upaya-upaya oleh para uskup Katolik untuk melindungi orang-orang Yahudi. Para pemimpin utamanya misalnya Emicho dan Peter sang Pertapa. Aktivitas anti-Yahudi ini memiliki kisaran yang luas, mulai dari kekerasan spontan secara terbatas sampai dengan serangan militer skala penuh terhadap komunitas-komunitas Yahudi di Mainz dan Cologne. Hal ini merupakan peristiwa besar pertama terkait kekerasan anti-Yahudi di Eropa, dan dikutip oleh kaum Zionis pada abad ke-19 sebagai kebutuhan akan suatu negara Yahudi. Ketika kelompok tersebut sampai di Kekaisaran Bizantium, Kaisar Alexius mendesak mereka agar menunggu para bangsawan barat, tetapi mereka bersikeras untuk melanjutkan dan jatuh dalam suatu penyergapan oleh bangsa Turk di luar kota Nicea, di mana hanya sekitar 3.000 orang yang berhasil meloloskan diri.

Bala tentara salib yang resmi berangkat dari Perancis dan Italia pada bulan Agustus dan September 1096. Sejumlah besar pasukan tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang mana melakukan perjalanan secara terpisah menuju Konstantinopel. Jika memperhitungkan orang-orang selain pejuang, pasukan barat mungkin berjumlah sebanyak 100.000 orang. Para pasukan tersebut melakukan perjalanan ke arah timur lewat jalan darat menuju Konstantinopel, di mana mereka menerima sambutan kehati-hatian dari sang Kaisar Bizantium.Pasukan utamanya, kebanyakan terdiri dari kesatria Norman dan Perancis di bawah kepemimpinan para baron, berjanji untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang hilang kepada kekaisaran tersebut dan mereka berbaris menuju selatan melalui Anatolia. Para pemimpin Perang Salib Pertama ini misalnya Godefroy dari Bouillon, Robert Curthose, Hugues I dari Vermandois, Baudouin dari Boulogne, Tancred dari Hauteville, Raymond IV dari Toulouse, Bohemond dari Taranto, Robert II dari Flandria, dan Étienne, Comte Blois. Raja Perancis dan Heinrich IV, Kaisar Romawi Suci, saat itu sedang dalam konflik dengan sang Paus dan tidak ikut berpartisipasi.

Pecahnya Perang Salib
Bala tentara salib awalnya berperang melawan bangsa Turk dalam Pengepungan Antiokhia yang berlangsung cukup lama, dimulai sejak bulan Oktober 1097 dan berakhir Juni 1098. Namun sejumlah besar pasukan Muslim yang dipimpin oleh Kerboga segera mengepung para tentara salib, yang saat itu berada di dalam Antiokhia. Bohemond dari Taranto berhasil menghimpun kembali para tentara salib itu dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni. Bohemond dan pasukannya tetap memegang kendali atas kota tersebut, kendati telah berjanji mengembalikannya kepada Alexius. Sebagian besar bala tentara salib yang tersisa itu bergerak menuju selatan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di sepanjang pesisir tersebut, dan akhirnya tiba di Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099 dengan hanya sebagian kecil dari kekuatan asli mereka.

Kaum Yahudi dan Muslim berjuang bersama-sama untuk mempertahankan Yerusalem dalam menghadapi invasi kaum Franka itu, tetapi para tentara salib berhasil masuk ke dalam kota tersebut pada tanggal 15 Juli 1099. Sebagai akibat dari Perang Salib Pertama, tercipta empat negara tentara salib yang utama: Edessa, Antiokhia, Tripoli, dan Yerusalem. Pada suatu tingkatan populer, Perang Salib Pertama dianggap melepaskan suatu gelombang amarah Katolik yang saleh dan emosional, yang mana diungkapkan dalam pembantaian orang-orang Yahudi yang mengiringi perang-perang salib tersebut dan perlakuan kejam atas kaum Kristen Ortodoks "skismatik" dari timur.

Setelah Perang Salib Pertama berlangsung yang kedua, perang salib yang kurang berhasil dan disebut Perang Salib 1101, di mana bangsa Turk yang dipimpin oleh Kilij Arslan I mengalahkan para tentara salib dalam tiga pertempuran terpisah.
Pada awal abad ke-12, praktek perang salib dengan skala yang lebih kecil terus berlangsung. Paus Kallistus II memaklumkan Perang Salib Venesia yang berlangsung pada tahun 1122–1124; kunjungan Foulques V, Comte Anjou, pada tahun 1120 dan 1129 serta Konrad III dari Jerman pada tahun 1124 menghasilkan pengakuan atas Ksatria Templar oleh Paus Honorius II. Pemberian indulgensi oleh Paus Innosensius II pada tahun 1135 atas keterlibatan dalam perang salib bagi mereka yang menentang musuh-musuh kepausan dipandang oleh beberapa sejarawan sebagai awal mula perang-perang salib yang bermotif politik. Negara-negara tentara salib pada awalnya aman, tetapiImad ad-Din Zengi, setelah ditunjuk sebagai gubernur Mosul pada tahun 1127, merebut Aleppo pada tahun 1128 dan Edessa (Urfa) pada tahun 1144. Kekalahan-kekalahan ini menyebabkan Paus Eugenius III menyerukan perang salib lainnya pada tanggal 1 Maret 1145. Perang salib baru ini didukung oleh berbagai pengkhotbah, yang paling terkenal ialah Bernardus dari Clairvaux. Para pasukan dari Perancis dan Jerman, masing-masing dipimpin oleh Raja Louis VII dan Konrad III, bergerak menuju Yerusalem pada tahun 1147 dan juga melakukan pengepungan atas Damaskus, tetapi gagal meperoleh satu pun kemenangan penting. Sementara itu sekelompok tentara salib dari Eropa utara berhenti di Portugal dan bersekutu dengan raja Portugal, yakni Afonso I, untuk merebut kembali Lisbon dari kaum Muslim pada tahun 1147. Sebuah detasemen dari grup tentara salib ini membantu Comte Ramón Berenguer IV dari Barcelona untuk menaklukkan kota Tortosa pada tahun berikutnya.
Di Tanah Suci, baik raja Perancis maupun Jerman telah kembali ke negara mereka masing-masing pada tahun 1150 tanpa ada satu pun perubahan berarti. Bernardus dari Clairvaux, yang melalui khotbah-khotbahnya mendorong keikutsertaan dalam Perang Salib Kedua, kecewa dengan terjadinya kekerasan dan pembantaian terhadap penduduk Yahudi di Rhineland. Pada tahun 1172 Heinrich sang Singa, Adipati Sachsen, melakukan suatu peziarahan yang terkadang dianggap sebagai suatu perang salib. Pada saat yang sama, bangsa Saxon dan Dane berperang melawan orang Wend dalam Perang Salib Wend. Kaum Wend mengalahkan Dane; Saxon tidak memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perang salib tersebut. Perang-perang salib terus berlanjut padahal tidak ada bulla kepausan resmi yang dikeluarkan untuk memberikan wewenang berlangsungnya perang-perang salib baru. Heinrich memulai kembali upaya untuk menaklukkan kaum Wend pada tahun 1160, dan mereka dikalahkan olehnya pada tahun 1162.

Sallahudin Al Ayyubi
Saladin membangun suatu kesatuan kekuatan oposisi dan memberikan ancaman baru kepada negara-negara Latin. Setelah kemenangannya di Pertempuran Hattin, ia dengan mudah mengalahkan para tentara salib yang tercerai berai pada tahun 1187 dan merebut kembali Yerusalem pada tanggal 29 September tahun itu. Syarat-syarat perjanjian diatur dan kota itu menyerah; Saladin memasuki kota pada tanggal 2 Oktober. Menurut Benediktus dari Peterborough, Paus Urbanus III meninggal dunia karena kesedihan yang mendalam pada tanggal 19 Oktober 1187 setelah mendengar berita mengenai kekalahan tersebut. Pada tanggal 29 Oktober Paus Gregorius VIIImengeluarkan sebuah bulla kepausan, Audita tremendi, yang memaklumkan dilangsungkannya Perang Salib Ketiga.Friedrich I, Kaisar Romawi Suci, Philippe II dari Perancis, dan Richard I dari Inggris berencana untuk merebut Yerusalem kembali dan mereka mengorganisir pasukan masing-masing. Friedrich meninggal dunia dalam perjalanan ke Yerusalem; beberapa pasukannya dapat mencapai Tanah Suci. Dua pasukan lainnya berhasil sampai tetapi dilanda pertengkaran politik. Philippe kembali ke Perancis, meninggalkan sebagian besar pasukannya. Richard menaklukkan Pulau Siprus dari kaum Bizantium pada tahun 1191 karena para korban kapal karam termasuk saudarinya ditawan oleh penguasa pulau itu, Isaakius Komnenos. Ia kemudian merebut kembali kota Akko setelah suatu pengepungan yang lama. Bala tentara salib melakukan perjalanan ke selatan di sepanjang pantai Mediterania, mengalahkan kaum Muslim di dekat Arsuf, dan merebut kembali kota pelabuhan Yafo. Mereka telah berada di dekat Yerusalem, tetapi kekurangan perbekalan memaksa mereka untuk mengakhiri perang salib ini tanpa merebut Yerusalem. Richard meninggalkannya pada tahun berikutnya setelah menegosiasikan suatu perjanjian dengan Saladin. Ketentuan-ketentuan itu mengizinkan kaum Katolik yang tidak bersenjata untuk berziarah ke Yerusalem dan mengizinkan para pedagang untuk berdagang. Heinrich VI, Kaisar Romawi Suci, memprakarsai Perang Salib Jerman pada tahun 1197 untuk memenuhi janji-janji yang dibuat oleh ayahnya, Friedrich. Dengan dipimpin oleh Konrad dari Wittelsbach, Uskup Agung Mainz, pasukan tersebut tiba di Akko dan merebut kota Sidon dan Beirut. Namun sebagian besar tentara salib itu kembali ke Jerman setelah Heinrich meninggal dunia.
Ketika Paus Selestinus III menyerukan suatu perang salib terhadap kaum pagan di Eropa Utara pada tahun 1193, Uskup Berthold dari Hanover memimpin sejumlah besar pasukan untuk mengalahkannya dan ia meninggal dunia tahun 1198. Menanggapi kekalahan tersebut, Paus Innosensius III mengeluarkan sebuah bulla kepausan yang menyatakan suatu perang salib terhadap etnis Livonia yang mana kebanyakan menganut paganisme.Albrecht von Buxthoeven, setelah dikonsekrasi sebagai uskup pada tahun 1199, tiba pada tahun berikutnya dengan suatu kekuatan yang besar dan menjadikan Riga sebagai takhta keuskupannya pada tahun 1201. Pada tahun 1202 ia membentuk Ksatria Livonian untuk membantunya mengkonversi kaum pagan ke dalam Katolikisme dan, yang lebih penting, untuk melindungi perdagangan Jerman. Etnis Livonia tersebut ditaklukkan dan dikonversi antara tahun 1202 dan 1209. Pada tahun 1217Paus Honorius III menyatakan suatu perang salib terhadap orang Prusia, dan pada tahun 1226 Konrad I dari Masovia memberikanChelmno kepada para Ksatria Teutonik sebagai sebuah basis bagi perang salib ini. Pada tahun 1236 para Ksatria Livonia dikalahkan oleh orang Lithuania di Saule, dan pada tahun 1237 Paus Gregorius IX menggabungkan sisa-sisa dari ordo militer tersebut ke dalam Ksatria Teutonik sebagai Ordo Livonian.

Pada tahun 1249 para Ksatria Teutonik menyelesaikan penaklukan mereka atas orang Prusia Lama, dan memerintahnya sebagai paralord dari kaisar Jerman. Mereka kemudian menaklukkan dan mengkonversi orang Lithuania, suatu proses yang berlangsung sampai tahun 1380-an.[104] Ordo tersebut gagal menaklukkan bangsa Rusia Ortodoks, khususnya Republik Pskov dan Novgorod (dengan dukungan dari Paus Gregorius IX), sebagai bagian dari Perang Salib Utara. Pada tahun 1240 pasukan Novgorod mengalahkan bangsa Swedia dalam Pertempuran Neva, dan dua tahun kemudian mereka mengalahkan Ordo Livonian dalam Pertempuran di Es.
Paus Innosensius III mulai berkhotbah di Inggris, Jerman, dan khususnya Perancis, tentang apa yang kemudian menjadi Perang Salib Keempat pada tahun 1200. Ini menjadi semacam kendaraan bagi ambisi politik Doge Enrico Dandolo dari Venesia (suatu negara vasal dari Bizantium pada saat itu) dan Raja Jerman Philip dari Swabia, yang beristrikan Irene dari Bizantium. Dandolo melihat suatu kesempatan untuk memperluas kekuasaan Venesia di Timur Dekat dan melepaskan diri dari keterikatan Bizantium; Philip melihat perang salib tersebut sebagai suatu kesempatan untuk mengembalikan keponakannya yang diasingkan, Alexius IV Angelus, ke singgasana Bizantium. Meskipun para tentara salib membuat kontrak dengan orang Venesia untuk suatu armada dan perbekalan untuk mengangkut mereka ke Tanah Suci, mereka tidak mampu membayar karena jumlah ksatria yang tiba di Venesia terlalu sedikit. Karenanya mereka sepakat untuk mengalihkan perang salib ke Konstantinopel dan berbagi apa yang dapat dirampas sebagai pembayaran. Sebagai jaminannya para tentara salib merebut kota Kristen Zara pada tanggal 24 November 1202, dan mereka semua yang terlibat diekskomunikasi oleh Paus Innosensius yang terkejut karena peristiwa itu. Mereka mendapat perlawanan terbatas dalam pengepungan awal mereka atas Konstantinopel, dengan berlayar menyusuri Dardanelles dan menembus tembok-tembok laut. Alexius IV Angelus mati dicekik setelah suatu kudeta kekaisaran, sehingga menggagalkan usaha mereka, dan mereka mengulangi pengepungan itu pada bulan April 1204. Kali ini kota tersebut dijarah, gereja-gereja dirampok, dan banyak penduduk dibunuh; para tentara salib membagi kekaisaran ini menjadi berbagai fief Latin dan koloni Venesia. Yang terakhir, pertahanan La Cava dan Nikosia dititikberatkan. Pada bulan April 1205 para tentara salib dikalahkan oleh kaum Bulgar dan sisa-sisa orang Yunani di Adrianopel, di mana Kaloyan dari Bulgaria menangkap dan memenjarakan kaisar Latin yang baru, yaitu Baudouin dari Flandria. Kendati menyesalkan tindakan-tindakan itu, kepausan tersebut pada awalnya mendukung penyatuan kembali gereja-gereja Timur dan Barat secara paksa. Perang Salib Keempat secara efektif menyebabkan adanya dua Kekaisaran Romawi di Timur: suatu kekaisaran Latin di selat tersebut (Konstantinopel) yang bertahan sampai tahun 1261 dan suatu enklave Bizantium yang memerintah dari Nicea, yang mana kemudian berhasil menguasainya kembali dengan memanfaatkan tidak adanya armada Venesia. Bagaimanapun Venesia adalah pewaris atau penerima manfaat satu-satunya.


Meskipun Perang Salib Albigensian dilangsungkan pada tahun 1208 untuk mengatasi kaum Katar (Albigens) dari Ositania(Perancis selatan masa kini), perjuangan panjang selama beberapa dekade menyimpan banyak keinginan dari Perancis utara untuk memperluas kontrolnya ke selatan sebagaimana dilakukannya dengan memerangi bidah tersebut. Kaum Katar akhirnya berhasil dihalau ke bawah tanah, dan Perancis selatan kehilangan kemerdekaannya. Pada tahun 1221 Paus Honorius III meminta Raja András II untuk mengatasi para bidat di Bosnia, dan pasukan Hungaria menanggapi tambahan permintaan kepausan pada tahun 1234 dan 1241; kampanye yang belakangan berakhir dengan adanya invasi Mongol di Hungaria pada tahun 1241. Gereja Bosnia merupakan Katolik secara teologis, tetapi skismanya dengan Gereja Katolik Roma berlangsung hingga melewati akhir Abad Pertengahan. Paus Innosensius III menyatakan bahwa suatu perang salib baru akan dimulai pada tahun 1217, dan ia menyelenggarakan Konsili Lateran IV pada tahun 1215. Tentara salib ini sebagian besar berasal dari Jerman, Flandria, dan Frisia, dengan sejumlah besar pasukan dari Hungaria yang dipimpin oleh András II dan pasukan tambahan yang dipimpin oleh Adipati Luitpold VI dari Austria. András dan Luitpold tiba di Akko pada bulan Oktober 1217, namun hanya sedikit hasil yang dicapai dan András kembali ke Hungaria pada bulan Januari 1218. Setelah kedatangan lebih banyak tentara salib, Luitpold dan Raja YerusalemJean dari Brienne mengepung Damietta di Mesir; mereka merebutnya pada bulan November 1219. Upaya-upaya lanjutan oleh Pelagio Galvani, seorang legatus kepausan, untuk bergerak lebih jauh ke Mesir tidak membuahkan hasil.Karena diblokir oleh pasukan Sultan Ayyubiyyah Al-Kamil, para tentara salib terpaksa menyerah. Al-Kamil memaksa dikembalikannya Damietta, setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 8 tahun, dan para tentara salib meninggalkan Mesir.
Selama musim panas tahun 1244 pasukan Khwarezmia yang dikirim oleh putra al-Kamil, yaitu as-Salih Ayyub, menyerang dan mengambil alih Yerusalem. Kaum Franka bersekutu dengan Ismail, paman Ayyub, dan al-Mansur Ibrahim, amir dari ?im?; pasukan gabungan mereka memasuki pertempuran di La Forbie di Gaza. Pasukan salib dan sekutunya dikalahkan dalam waktu 48 jam oleh pasukan Khwarezmia. Raja Louis IX dari Perancis mengorganisir suatu perang salib setelah mengambil salib tersebut pada bulan Desember 1244, memberitakan dan melakukan perekrutan antara tahun 1245 sampai 1248. Pasukan Louis berlayar dari Perancis pada bulan Mei 1249, mendarat di Mesir dekat Damietta pada tanggal 5 juni 1249. Setelah banjir dari sungai Nil surut, pasukan tersebut bergerak ke pedalaman pada bulan November dan pada bulan Februari telah berada di dekat Mansura. Mereka dikalahkan, dan Louis ditangkap saat ia mundur kembali ke Damietta. Ia ditebus dengan harga 800.000 bezant, dan disepakati suatu gencatan senjata selama 10 tahun. Louis pergi ke Suriah, menetap di sana sampai tahun 1254 untuk memperkuat dan memperkokoh kerajaan Yerusalem. Setelah berulang kali melanggar sumpahnya dalam perang salib, Kaisar Friedrich II diekskomunikasi. Ia akhirnya berlayar dari Brindisi, mendarat di Akko pada bulan September 1228 setelah suatu perhentian di Siprus. Friedrich menyepakati suatu perjanjian damai dengan Al-Kamil yang mana memungkinkan kaum Kristen Latin untuk menguasai sebagian besar Yerusalem dan sejalur wilayah dari Akko menuju Yerusalem, dengan kaum Muslim menguasai daerah-daerah suci mereka di Yerusalem. Sebagai imbalannya, Friedrich berjanji untuk melindungi Al-Kamil terhadap semua musuh sekalipun mereka kaum Kristen. Setelah perang salib ini ada suatu upaya oleh Raja Thibaut I dari Navarre pada tahun 1239 dan 1240, yang berawal dari panggilan Paus Gregorius IX pada tahun 1234 untuk kembali berhimpun pada bulan Juli 1239 setelah gencatan senjata berakhir. Selain Thibaut, Peter dari Dreux, Hugues dari Bourgogne dan bangsawan Perancis lainnya juga berpartisipasi. Mereka tiba di Akko pada bulan September 1239; setelah suatu kekalahan pada bulan November, Thibaut mengatur suatu perjanjian dengan kaum Muslim yang mana mengembalikan wilayah kepada negara-negara yang tergabung dalam perang salib tetapi menyebabkan ketidakpuasan di kalangan tentara salib. Thibaut kembali ke Eropa pada bulan September 1240; Richard dari Cornwall, adik Raja Henry III dari Inggris, mengambil salib tersebut dan tiba di Akko pada bulan berikutnya. Setelah menegakkan perjanjiannya Thibaut, Richard meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke Eropa pada bulan Mei 1241.Pada tahun 1256 orang Venesia terusir dari Tirus, menggerakkan terjadinya Perang Santo Sabas atas wilayah di Akko yang diklaim oleh Genoa dan Venesia. Meskipun orang Venesia menaklukkan wilayah yang disengketakan itu (dengan menghancurkan benteng pertahanan Santo Sabas), mereka tidak dapat mengusir orang Genoa. Selama blokade 14 bulan, Genoa bersekutu dengan Philippe dari Montfort, John dari Arsuf, dan Ksatria Hospitaller; sementara Venesia didukung oleh Comte Yafo dan Ksatria Templar. Pada tahun 1261 orang Genoa dapat diusir tetapi Paus Urbanus IV, karena khawatir atas dampak perang tersebut pada pertahanan terhadap orang Mongol, mengorganisir suatu konsili perdamaian. Konflik tersebut berlanjut pada tahun 1264 ketika orang Genoa mendapat bantuan dari Mikhael VIII Palaiologos, Kaisar Nicea, dan Venesia tidak berhasil dalam usahanya menaklukkan Tirus. Kedua belah pihak menggunakan serdadu Muslim (terutama Turkopol) untuk melawan musuh Kristen mereka, dan orang Genoa menjalin aliansi dengan Sultan Mesir Baibars. Perang ini secara signifikan mengganggu kemampuan kerajaan tersebut dalam menghadapi ancaman eksternal. Selain bangunan-bangunan keagamaan, kebanyakan bangunan berkubu di Akko dihancurkan; pada satu titik, kota itu dikatakan tampak seperti telah dirusak oleh pasukan Muslim. Menurut Rothelin, yang melanjutkan Sejarah karya William dari Tirus, 20.000 orang tewas dalam konflik tersebut (sementara negara-negara tentara salib sangat kekurangan prajurit). Perang ini berakhir pada tahun 1270, dan pada tahun 1288 Genoa mendapatkan kembali kawasannya di Akko.


Charles menghabiskan hidupnya dengan upaya-upaya untuk menghimpunkan suatu kekaisaran
Mediterania; ia dan Louis memandang diri mereka sebagai instrumen Allah untuk menegakkan kepausan. Louis IX mengabaikan para penasihatnya sehingga pada tahun 1270 ia kembali menyerang bangsa Arab di Tunis. Cuacanya panas, dan pasukannya hancur oleh penyakit. Louis meninggal dunia, sehingga mengakhiri upaya besar yang terakhir untuk mengambil alih Tanah Suci. Dari tahun 1265 sampai 1271, para mamluk yang dipimpin oleh Sultan Baibars mendesak kaum Franka ke beberapa pos pesisir kecil. Yang kemudian menjadi Edward I dari Inggris berjanji untuk ikut serta dengan Louis IX dalam perang salib, namun ia terlambat dan baru sampai di Afrika Utara pada bulan November 1270. Setelah wafatnya Louis, Edward pergi ke Sisilia dan kemudian ke Akko pada bulan Mei 1271. Bagaimanapun pasukannya kecil, dan ia tidak senang dengan gencatan senjata antara Baibars dan Raja Hugues dari Yerusalem. Edward belajar dari kematian ayahnya dan suksesinya ke singgasana terjadi pada bulan Desember 1272, tetapi ia tidak kembali ke Inggris hingga tahun 1274 (walau ia meraih sedikit pencapaian di Tanah Suci). Konklaf pada tahun 1281 yang memilih seorang paus Perancis, yaitu Paus Martinus IV, membawa kekuasaan kepausan sepenuhnya ke lini belakang Charles. Ia berkampanye di Albania dan Akhaya, namun tidak berhasil, menjelang persiapan untuk melangsungkan perang salibnya (dengan 400 kapal yang membawa 27.000 ksatria berkuda) terhadap Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos bersekutu dengan Pero III dari Aragon untuk memicu suatu pemberontakan, yang kemudian disebut Vespers Sisilia, di mana armada kapal tentara salib ditinggalkan dan dibakar. Orang-orang Sisilia mengangkat Pero sebagai raja, dan Wangsa Anjou Kapetia diasingkan dari Sisilia. Paus Martinus mengekskomunikasi Pero dan melangsungkan suatu perang salib terhadap Aragon sebelum Charles wafat pada tahun 1285, yang mana memungkinkan Henri II dari Siprus untuk merebut kembali Yerusalem. Salah satu faktor kemunduran para tentara salib adalah perpecahan dan konflik seputar kepentingan kaum Kristen Latin di Mediterania timur. Paus Martinus dipandang membahayakan kepausan dengan mendukung Charles dari Anjou, dengan ceroboh melangsungkan "perang-perang salib" sekuler terhadap Sisilia dan Aragon sehingga menodai gemerlap spiritualnya. Jatuhnya otoritas moral kepausan dan bangkitnya nasionalisme membunyikan lonceng kematian bagi praktek perang salib, yang akhirnya mengarah pada Kepausan Avignon dan Skisma Barat. Perang Salib Aragon dinyatakan oleh Paus Martinus terhadap Pero III pada tahun 1284 dan 1285, di mana Pero mendukung pasukan anti Angevin ("dari Anjou") di Sisilia setelah Vespers Sisilia dan Paus Martinus mendukung Charles dari Anjou. Paus Bonifasius VIII menyatakan suatu perang salib terhadap Federico III dari Sisilia (putra bungsu Pero) pada tahun 1298, namun ia tidak mampu menghalangi pengakuan dan pemahkotaan Federico sebagai raja Sisilia.Pada tahun 1266 saudara Louis IX, Charles, merebut Sisilia yang sebelumnya menguasai sebagian daerah di Laut Adriatik timur, yaituKerkyra, kota-kota Butrinto, Avlona, dan Suboto. Perjanjian Viterbo disepakati dengan pengasingan Baudouin II dari Konstantinopel danGuillaume dari Villehardouin; para ahli waris dari kedua pangeran Latin ini akan dinikahkan dengan anak-anak Charles, dan jika tidak ada ahli waris maka Charles akan memperoleh kepangeranan dan kekaisaran tersebut. Charles memalingkan perang salib saudaranya demi kepentingannya sendiri, ia membujuk Louis untuk mengarahkan yang disebut Perang Salib Kedelapan itu untuk melawan vasal yang memberontak dari Charles, yakni Tunis. Namun wafatnya Louis, penyakit yang menyebar di kalangan tentara salib, dan badai yang menghancurkan armada kapalnya memaksa Charles untuk menunda rencana yang telah disusunnya atas Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos khawatir dengan perang salib yang telah direncanakan Charles untuk memulihkan Kekaisaran Latin, yang mana telah jatuh pada tahun 1261, dan terhadap ekspansi Charles di Mediterania. Rencana Charles tertunda karena Michael memulai negosiasi dengan Paus Gregorius X demi persatuan gereja-gereja Yunani dan Latin. Dalam Konsili Lyon II, penyatuan gereja-gereja tersebut dideklarasikan sehingga Charles dan Philippe dari Courtenay terpaksa menjalin gencatan senjata dengan kaum Bizantium. Penyatuan ini nantinya terbukti tidak dapat diterima oleh kalangan Yunani. Michael juga mendanai Genoa untuk mendorong pemberontakan di wilayah-wilayah Italia utara yang dikuasai Charles. Pada tahun 1268 Charles mengeksekusi Konradin, cicit Isabella dari Jerusalem dan pretenderutama atas singgasana Yerusalem, ketika ia merebut Sisilia dari Kekaisaran Romawi Suci. Charles membeli hak penguasaan Yerusalem dari Maria dari Antiokhia, satu-satunya cucu yang masih hidup dari Ratu Isabella, sehingga menciptakan suatu klaim untuk menandingiHugues III dari Siprus (cicit Isabella).Tanah daratan negara-negara Tentara Salib dari outremer tersebut lenyap dengan jatuhnya Tripoli pada tahun 1289 dan Akko pada tahun 1291. Kebanyakan kaum Kristen Latin yang tersisa pergi ke berbagai tempat tujuan dalam Frankokratia ("pemerintahan Franka"), dibunuh, atau diperbudak. Upaya-upaya praktek perang salib kecil masih ada pada abad ke-14; Pierre I dari Siprus merebut dan menjarah Aleksandria pada tahun 1365 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Salib Aleksandria, namun motivasinya lebih kepada kepentingan ekonomi daripada religius. Louis II memimpin Perang Salib Mahdiya untuk melawan bajak laut Muslim di Afrika Utara; setelah pengepungan selama 10 minggu, para tentara salib menyepakati gencatan senjata selama 10 tahun.

Sejumlah perang salib dilangsungkan selama abad ke-14 dan ke-15 untuk menghadapi ekspansi Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah); yang pertama (pada tahun 1396) dipimpin oleh Sigismund dari Luxemburg, raja Hungaria. Banyak bangsawan Perancis yang bergabung dengan Sigismund, misalnya Jean II dari Bourgogne (putra Adipati Bourgogne). Kendati Sigismund menyarankan para tentara salib untuk berfokus pada pertahanan ketika mereka sampai di Donau, mereka mengepung kota Nikopol. Ottoman mengalahkan mereka dalam Pertempuran Nikopolispada tanggal 25 September, menawan 3.000 orang.[143] Perang Salib Hussit, dikenal juga dengan sebutan Peperangan Hussit atau Peperangan Bohemian, merupakan aksi militer terhadap pengikut Jan Hus di Bohemia dari tahun 1420 sampai 1431. Berbagai perang salib dinyatakan sebanyak lima kali selama periode ini: tahun 1420, 1421, 1422, 1427, dan 1431. Ekspedisi-ekspedisi tersebut memaksa pasukan Hussit, yang mana tidak setuju dengan banyak hal doktrinal, untuk bersatu mengusir penjajah. Peperangan ini beakhir tahun 1436 dengan ratifikasiCompactata Iglau oleh Gereja.[144]
Raja Polandia-Hungaria Wladyslaw Warnenczyk menyerang wilayah yang baru ditaklukkan Ottoman, sampai ke Beograd pada bulan Januari 1444; Sultan Murad II menolak suatu negosiasi gencatan senjatan beberapa hari setelah ratifikasinya. Upaya-upaya lanjutan oleh para tentara salib berakhir dalam Pertempuran Varna pada tanggal 10 November, suatu kemenangan mutlak Ottoman yang menyebabkan mundurnya para tentara salib. Penarikan ini, menyusul upaya terakhir pihak Barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium, mengakibatkan kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453. János Hunyadi dan Yohanes dari Capistrano mengorganisir suatu perang salib pada tahun 1456 untuk membebaskan Beograd dari pengepungan Ottoman. Pada bulan April 1487 Paus Innosensius VIII menyerukan suatu perang salib terhadap kaum Waldensian dari Savoy, Piemonte, dan Dauphiné di Perancis selatan dan Italia utara. Satu-satunya upaya yang benar-benar dilakukan, yang mana menghasilkan sedikit perubahan, adalah di Dauphiné.

Negara - negara Perang Salib
Perang Salib Pertama mendirikan empat negara tentara salib yang pertama di Mediterania Timur: County Edessa (1098–1149), Kepangeranan Antiokhia (1098–1268), Kerajaan Yerusalem (1099–1291), dan County Tripoli (1104—kendati Tripoli belum ditaklukkan hingga 1109—sampai 1289). Kerajaan Armenia Kilikia telah ada sebelum Perang-perang Salib, tetapi status kerajaan diperolehnya dari Paus Innosensius III dan kemudian mendapat pengaruh barat sepenuhnya oleh Wangsa Lusignan. Menurut sejarawan Jonathan Riley-Smith, negara-negara ini merupakan contoh awal dari "Eropa di luar negeri". Mereka umumnya dikenal dengan sebutan outremer, dari bahasa Perancis outre-mer ("luar negeri", bahasa Inggris: overseas).
Perang Salib Keempat mendirikan sebuah Kekaisaran Latin di timur dan memungkinkan pembagian wilayah Bizantium oleh para pesertanya. Kaisar Latin mengendalikan seperempat wilayah Bizantium, Venesia tiga perdelapannya (termasuk tiga perdelapan kota Konstantinopel), dan sisanya dibagi-bagi di antara para pemimpin perang salib lainnya. Peristiwa ini mengawali periode sejarah Yunani yang dikenal sebagai Frankokratia atau Latinokratia ("pemerintahan Franka [atau Latin]"), sedangkan para bangsawan Eropa Barat Katolik—terutama dari Perancis dan Italia—mendirikan negara-negara di bekas wilayah Bizantium dan memerintah bangsa Yunani Bizantium Ortodoks di wilayah-wilayah tersebut. Partitio terrarum imperii Romaniae merupakan suatu catatan penting tentang properti keluarga dan pembagian administratif Bizantium (episkepsis) pada awal abad ke-13.
Peninggalan Perang salib
Asimilasi budaya dan penduduk, banyak yang perlu kita ketahui dalam perang salib terjadi proses asimilasi penduduk Turki yang kita ketahui sekarang adalah penduduk campuran antara orang eropa,persia dan arab.
Orang Eropa Barat yang berada di Timur mengadopsi adat istiadat setempat, memandang diri mereka sebagai warga dari rumah baru mereka dan terjadi perkawinan campur. Hal ini menyebabkan adanya orang-orang dan budaya yang diturunkan dari sisa-sisa penduduk Eropa di negara-negara tentara salib, terutama kaum Levantin Perancis di Lebanon, Palestina, dan Turki. Para pedagang darirepublik maritim di sekitar Laut Tengah atau Mediterania (Venesia, Genoa, Ragusa) melanjutkan kehidupan mereka di Konstantinopel,Smirna, dan bagian-bagian lain Anatolia serta pantai Mediterania timur selama pertengahan era Bizantium dan Ottoman. Orang-orang ini, yang dikenal dengan sebutan Franko-Levantin (Levantin Perancis; Frankolevantini; bahasa Italia: Levantini; bahasa Yunani:F?a????eßa?t????; dan bahasa Turki: Levantenler, Tatlisu Frenkleri), merupakan umat Katolik Roma.
Adanya sikap kritis terhadap gereja
Perang-perang Salib pada saat itu mempengaruhi sikap Gereja Barat terhadap peperangan; panggilan secara rutin untuk melangsungkan perang salib dikatakan membiasakan para klerus terhadap tindak kekerasan. Mereka juga memicu suatu perdebatan seputar legitimasi merebut tanah dan kepemilikan dari kaum pagan dengan alasan murni keagamaan yang mana kembali muncul ke permukaan selamaZaman Penjelajahan pada abad ke-15 dan ke-16. Kebutuhan akan praktek perang salib mendorong perkembangan pemerintahan sekuler, yang mana tidak semuanya berdampak positif; sumber daya yang digunakan dalam peperangan seharusnya dapat digunakan oleh negara-negara berkembang untuk kebutuhan lokal maupun regional.
Karena prestise dan kekuasaannya diangkat oleh Perang-perang Salib, kuria kepausan pada saat itu menjadi memiliki kendali yang lebih besar atas Gereja barat dan memperluas sistem perpajakan kepausan melalui struktur gerejawi Barat. Sistem indulgensi bertumbuh signifikan di Eropa pada abad pertengahan akhir dan memicu Reformasi Protestan pada awal abad ke-16.
Berkembangnya sikap antisemitisme di eropa
Meskipun Perang Salib Albigensian dimaksudkan untuk menghilangkan Katarisme di Languedoc, namun Perancis mengakuisisi daratan dengan ikatan bahasa dan budaya yang lebih dekat dengan Catalunya. Perang salib ini juga berperan dalam pembentukan dan pelembagaan Ordo Dominikan dan Inkuisisi Abad Pertengahan. Penganiaan terhadap orang Yahudi dalam Perang Salib menjadi bagian dari sejarah panjang antisemitisme di Eropa. Kebutuhan untuk meningkatkan, mengangkut, dan mensuplai pasukan dalam jumlah besar menyebabkan kenaikan aktivitas perdagangan antara Eropa dan outremer tersebut. Genoa dan Venesia mengalami perkembangan dengan adanya koloni-koloni perdagangan yang menguntungkan di negara-negara tentara salib di Tanah Suci dan (kemudian) di wilayah Bizantium yang direbutnya.


Dalam sejarah panjang perang salib ada sebuah kisah nyata
Pertempuran 2 raja kuat dari Inggris yaitu Richard 'The Lion Heart' melawan Raja Salahuddin Al Ayyubi 'The Wise Man' yang melegenda, bukan hanya karena hebatnya pertempuran itu tapi juga kisah persahabatan antara 2 raja.

1. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : “Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi “
2. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.
3. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran
4. Ketika ada salah satu panglima perang saladin memberontak, Richard membunuhnya dan menyerahkan kepalanya pada saladin serta berkata, “Aku tidak ingin orang ini mengacaukan “permainan” kecil kita”. Dan keesokan harinya mereka bertempur sengit.
5. Pernah dalam suatu pertempuran, Richard melihat bahwa pedang saladin tumpul dan dia menghentikan perang hari itu untuk memberikan kesempatan agar saladin mengasahnya
6. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?
7. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.
8. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir
9. Kekalahan pasukan Arab lebih sering karena mereka terpancing melakukan serangan terbuka melawan kavaleri berat Eropa. Dimana disiplin serta pengalaman tempur sukarelawan Jihad kalah jauh dari satuan tempur veteran Eropa khususnya ordo-ordo militer seperti Templar, Hospitallers dan Teutonic Knight.
10. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack
11. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.
12. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.

Sebenarnya motif perang salib yang utama adalah perebutan wilayah dan kekayaan dengan bumbu agama. Yerusalem kota yg dihancurkan dan dibangun lebih dari 40 kali. Yerusalem adalah kota politik, budaya,agama dan simbol.

Perang salib adalah sejarah panjang yg penuh pelajaran bijak untuk kita semua bahwa hal sia-sia kan menghasilkan kesia-siaan belaka. Manusia selalu menggunakan agama,suku dan ras sebagai pembenar untuk ambisi dan nafsu pribadinya. Semoga kita dalam lingkungan yang modern dan intelek dapat mengambil hikmah positif dalam segala hal bahwa dalam perbedaan kita perlu saling menghormati dan menjaga perdamaian yang mahal ini.

Saya tutup tulisan ini dengan kata

Shallom Alechem
Assalam mualaikum
Maybe peace be upon you
Semoga damai beserta kita semua

Friday, 12 February 2016

Kisah Tiga Negara


Kisah Tiga Negara
(Hanzi: 三國演義, hanyu pinyin: sānguó yǎnyì, Bahasa Inggris: Romance of the Three Kingdoms) adalah sebuah roman berlatar-belakang sejarah dari zaman Dinasti Han dan Tiga Negara.
Di kalangan Tionghoa di Indonesia, kisah ini dikenal dengan nama Samkok yang merupakan dialek Hokkian dari sanguo atau tiga negara.




Sering orang salah kaprah akan perbedaan Kisah Tiga Negara atau Kisah Tiga Kerajaan mengingat terjemahan bahasa Inggris dari roman ini adalah Romance of the Three Kingdoms, namun pada sebenarnya, yang tepat adalah Kisah Tiga Negara mengingat pada klimaks roman ini, ketiga pemimpin yang bertikai; Cao Cao (negeri Wei), Liu Bei (negeri Shu) dan Sun Quan (negeri Wu) masing-masing telah memaklumatkan diri sebagai kaisar dan mengklaim legitimasi sebagai kekaisaran yang mewarisi Dinasti Han yang telah runtuh.

Roman ini ditulis oleh Luo Guanzhong (羅貫中), seorang sastrawan dinasti Ming yang mengambil referensi dari literatur sejarah resmi mengenai Zaman Tiga Negara di Tiongkok dimulai dari penghujung Dinasti Han, pecahnya Tiongkok ke dalam tiga negara dan kemudian dipersatukan kembali di bawah Dinasti Jin. Selain dari sejarah resmi, Luo juga mengambil referensi dari cerita rakyat turun temurun yang dituturkan secara lisan di masyarakat pada masa hidupnya.


Kisah Tiga Negara adalah salah satu karya sastra klasik yang paling populer di dalam sejarah Tiongkok. Luo menuliskan roman ini dalam 120 bab yang mempunyai alur cerita bersambung dengan referensi Catatan Sejarah Tiga Negara oleh Chen Shou dan sedikit imajinasinya sendiri. Ada sekitar lebih 400 tokoh sejarah yang diceritakan di dalam Kisah Tiga Negara yang dilukiskan dengan karakter berbeda. Cao Cao, Liu Bei dan Sun Quan sama sebagai karakter pemimpin namun berbeda dalam sifat dan pemikiran. Demikian pula penasehat Zhuge Liang, Xun You, Guo Jia dan Zhou Yu masing-masing berbeda pandangan dan wataknya. Setiap karakter mempunyai watak dan sifatnya sendiri yang berbeda satu sama lain. 


Penggambaran perbedaan watak karakter ini menjadikan roman ini diakui sebagai salah satu wakil dari puncak perkembangan sastra Tiongkok dalam sejarah. Kisah Tiga Negara ditulis dalam bahasa klasik (文言文).

Awal Kisah :
Cerita di mulai pada tahun-tahun terakhir kekuasaan Dinasti Han di China, ketika kasim-kasim istana banyak memperdaya kaisar dan memecat periwra-perwira yang melawan mereka. Akibat perbuatan itu, korupsi yang mengakibatkan kemerosotan besar di seluruh sektor merajalela. Pada masa kekuasaan Kaisar Ling, muncul Pemberontakan Sorban Kuning yang dipimpin oleh Zhang Jiao. Di bab awal ini, banyak tokoh-tokoh penting diperkenalkan, termasuk di antaranya Liu Bei, Guan Yu, Zhang Fei, Cao Cao, dan Sun Jian.
Pemberontakan itu akhirnya bisa dihancurkan oleh tentara kekaisaran di bawah komando He Jin, mertua kaisar Ling. Namun, takut akan kemungkinan semakin membesarnya kekuatan He Jin, kasim-kasim istana yang korup menjebaknya datang sendirian ke istana, lalu membunuhnya. Pengawal-pengawal yang menunggu di luar istana, dipimpin oleh Yuan Shao, merespon pembunuhan ini dengan masuk ke dalam dan membunuh semua yang ada di sana. Dalam situasi mencekam dan penuh kepanikan, Kaisar Shao dan Pangeran Chenliu - Liu Xian, yang kemudian menjadi Kaisar terakhir Dinasti Han menghilang dari istana.

Kronologi sejarah
Penghujung Dinasti Han

Pembagian administrasi (prefektur) di penghujung Dinasti Han.
Dinasti Han mengalami kemerosotan sejak tahun 100 karena kaisar-kaisar penguasa yang tidak cakap memerintah dan pembusukan di dalam birokrasi pemerintahan. Beberapa pemberontakan petani pecah sebagai bentuk ketidakpuasan rakyat terhadap kekaisaran. Namun ketidakmampuan kaisar lebih parah dipergunakan oleh para kasim untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di tangan mereka. Penghujung Dinasti Han memang adalah sebuah masa yang didominasi oleh pemerintahan kasim.Sejak Kaisar Hedi, kaisar-kaisar selanjutnya naik tahta pada masa kanak-kanak. Ini menyebabkan tidak ada pemerintahan yang stabil dan kuat karena pemerintahan dijalankan oleh kasim-kasim dan keluarga kaisar lainnya yang kemudian melakukan kudeta untuk menyingkirkan kaisar yang tengah beranjak dewasa guna melanggengkan kekuasaan mereka. Ini menyebabkan lingkaran setan yang kemudian makin memperburuk situasi Dinasti Han. Pada penghujung dinasti Han muncul pemberontakan selendang kuning atau yang lebih dikenal dengan Pemberontakan Sorban Kuning, yang dipimpin oleh Zhang Jiao beserta antek-anteknya mereka menduduki wilayah Yu Zhou, Xu Zhou, Yan Zhou. Tepatnya dulu menduduki kota-kota Ping Yuan, Wan, Xu Chang, Ye, Xiao Pei, Shou Chun. Untuk menumpas pemberontakan yang muncul maka pemerintah dinasti Han menobatkan He Jin sebagai Jendral besar sekaligus perdana menteri. Selama kurang lebih 8 tahun, He jin masih tidak dapat menumpas pemberontakan.

Kelaliman Perdana Menteri Dong Zhuo
Pada tahun 189, sesaat setelah Kaisar Lingdi mangkat, para menteri kemudian merencanakan untuk membunuh Jenderal He Jin, paman dari anak Kaisar Lingdi, Liu Bian. Ini dimaksudkan untuk mencegah He Jin mendudukkan Liu Bian sebagai kaisar pewaris tahta. Rencana ini diketahui oleh He Jin yang kemudian segera melantik Liu Bian sebagai pewaris tahta dengan gelar Shaodi pada April 189. Selain itu, He Jin juga memerintahkan Dong Zhuo untuk kembali ke ibu kota Luoyang untuk menghabisi para menteri serta kasim yang ingin merebut kekuasaan itu. Sebelum Dong Zhuo sampai, He Jin sudah dibunuh dahulu oleh para menteri di dalam istana.
Yuan Shao kemudian mengambil inisiatif menyerang istana dan memerintahkan pembunuhan sebagian menteri dan kasim yang dituduh berkomplot merebut kekuasaan kekaisaran. Namun, menteri lainnya menyandera Kaisar Shaodi dan adiknya Liu Xie ke luar istana. Dong Zhuo mengambil kesempatan ini untuk memusnahkan komplotan menteri tadi dan menyelamatkan kaisar. Dengan kaisar di bawah pengaturannya, Dong Zhuo kemudian memulai kelalimannya.
Dong Zhuo mulai menyiapkan strateginya untuk mengontrol kekuasaan kekaisaran di Tiongkok dengan membatasi wewenang kekuasaan Kaisar Shaodi. Ia lalu menghasut Lu Bu untuk membunuh ayah angkatnya, Ding Yuan dan merebut seluruh kekuatan militernya untuk memperkuat diri sendiri. Yuan Shao juga diusir olehnya dari Luoyang. Ia membatasi wewenang para menteri dan memusatkan kekuasaan di tangannya, setelah itu, Kaisar Shaodi diturunkan dari tahta untuk kemudian digantikan oleh adiknya Liu Xie yang menjadi kaisar dengan gelar Xiandi pada September 189. Sejarahwan beranggapan bahwa momentum ini adalah awal Zaman Tiga Negara.
Yuan Shao kemudian menghimbau para jenderal penguasa daerah untuk melawan kelaliman Dong Zhuo. Usahanya membawa hasil 11 batalyon militer beraliansi untuk melakukan agresi ke Luoyang guna menumbangkan rezim Dong Zhuo. Yuan Shao memimpin aliansi yang kemudian dinamakan sebagai Tentara Pintu Timur. Dong Zhuo merasa takut dan membunuh bekas kaisar Shaodi, membumi-hanguskan dan merampok penduduk Luoyang, menyandera Kaisar Xiandi dan memindahkan ibu kota ke Chang'an.
Dalam pelariannya, Dong Zhuo diserang oleh Cao Cao dan Sun Jian yang tergabung dalam Tentara Pintu Timur, namun sayang karena ada kecemburuan di dalam aliansi menyebabkan tidak ada bantuan dari jenderal lainnya yang tidak ingin melihat keberhasilan mereka berdua. Aliansi ini kemudian bubar dan Dong Zhuo meneruskan kelalimannya di Chang'an.
Akhirnya, pada tahun 192, menteri istana bernama Wang Yun bersama Lu Bu menghabisi nyawa Dong Zhuo di Chang'an. Ini mengakibatkan bawahan Dong Zhuo, Li Jue menyerang istana dan membunuh Wang Yun serta mengusir Lu Bu. Li Jue melanjutkan kelaliman pemerintahan Dong Zhuo.

Berkuasanya raja-raja perang
Setelah Dong Zhuo berhasil dijatuhkan, Dinasti Han makin melemah karena kehilangan kewibawaan kekaisaran. Melemahnya kekuasaan istana menyebabkan para gubernur dan penguasa daerah memperkuat diri sendiri dan menjadi raja kecil di wilayah mereka. Ini menyebabkan munculnya rivalitas antar raja-raja perang satu wilayah dengan wilayah lainnya. 



Raja perang yang terkenal dan kuat pada masa ini adalah :

- Yuan Shao, menguasai Prefektur Ji di utara Sungai Kuning.
- Cao Cao, menguasai Chenliu dan kemudian Xuchang.
- Yuan Shu, menguasai daerah Huainan dan mengangkat diri sebagai kaisar karena mempunyai stempel kekaisaran di tangannya.
- Sun Jian, menguasai Changsha.
- Dong Zhuo, gubernur Prefektur Liang, namun kemudian merebut ibu kota Luoyang dan memindahkannya ke Chang'an, Prefektur Sili.
- Liu Biao, menguasai Prefektur Jing.
- Liu Zhang, menguasai Prefektur Yi.
- Zhang Lu, menguasai Hanzhong.
- Ma Teng, menguasai Prefektur Liang.
- Gongsun Zan, menguasai Semenanjung Liaodong.

Peperangan Guandu dan penyatuan utara
Peta wilayah pengaruh Yuan Shao (merah) dan Cao Cao (biru) pada tahun 195.
Di antara mereka, kekuatan Cao Cao dan Yuan Shao berkembang paling pesat dan menyebabkan peperangan di antara mereka tidak dapat dihindari. Cao Cao pada tahun 197 menaklukkan Yuan Shu, lalu Lu Bu pada tahun 198 serta Liu Bei setahun selanjutnya. Tahun 200, Yuan Shao memulai ekspansi wilayah ke selatan, namun berhasil dipukul mundur oleh Cao Cao. Yuan Shao kemudian memutuskan untuk memimpin sendiri kampanye militer ke selatan dan berpangkalan di Yangwu. Cao Cao juga mundur ke Guandu untuk melakukan kampanye defensif. Di sini, kekuatan di antara mereka berimbang selama setengah tahun sampai akhirnya Cao Cao melakukan serangan mendadak dan memusnahkan seluruh persediaan logistik Yuan Shao. Yuan Shao kemudian mundur karena moral prajurit yang rendah setelah kekalahan yang menentukan itu. Ini adalah peperangan Guandu yang terkenal itu.
Setelah kekalahannya di Guandu, Yuan Shao beberapa kali mencoba melakukan serangan kepada Cao Cao namun gagal. Tahun 202, Yuan Shao meninggal, menyebabkan perebutan kekuasaan antara putranya, Yuan Tan dan Yuan Shang. Cao Cao mengambil kesempatan ini untuk menaklukkan Yuan Shang dan membunuh Yuan Tan. Yuan Shang kemudian mencari perlindungan kepada suku Wuhuan di utara yang mendukung Yuan Shao. Atas nasihat Guo Jia, Cao Cao menyerang Wuhuan dan membunuh pemimpinnya. Yuan Shang dalam pelariannya mencari perlindungan kemudian dibunuh oleh Gongsun Kang yang takut diserang Cao Cao bila memberikan suaka kepada Yuan Shang.
Tahun 207, Cao Cao secara resmi mempersatukan wilayah utara Tiongkok dan merencanakan ekspansi ke wilayah selatan.


Kampanye militer ke selatan dan peperangan Chibi
Tahun 208, Cao Cao melakukan kampanye militer ke selatan tepatnya ke Prefektur Jingzhou yang saat itu dikuasai oleh Liu Biao. Liu Biao meninggal sebelum Cao Cao tiba. Liu Zong, anak Liu Biao yang menggantikan ayahnya menyerah kepada Cao Cao. Liu Bei yang saat itu berlindung kepada Liu Biao melarikan diri ke Jiangling, namun berhasil dipukul mundur lebih lanjut ke Xiakou.
Sun Quan mengutus penasihatnya Lu Su mengunjungi Liu Bei menanyakan keadaannya. Zhuge Liang kemudian mewakili Liu Bei mengajukan penawaran aliansi kepada Sun Quan. Aliansi Sun-Liu terbentuk untuk menahan serangan Cao Cao. Zhou Yu dan Cheng Pu memimpin tentara Sun dan berhasil memukul mundur tentara Cao Cao dengan strategi api. Peperangan berlokasi di daerah Chibi dan terkenal sebagai pertempuran Chibi.


Liu Bei menduduki Prefektur Yizhou
Cao Cao yang kalah perang kemudian mengalihkan perhatian ke wilayah barat. Cao Cao menyerang Hanzhong yang dikuasai Zhang Lu. Penguasa di Xiliang kemudian melakukan perlawanan pada tahun 211 karena takut menjadi target Cao Cao selanjutnya. Ma Chao yang memimpin perlawanan ini dikalahkan Cao Cao dan mengasingkan diri. Setelah tahun 215, Cao Cao telah berhasil menguasai seluruh wilayah utara dan barat Tiongkok.
Kemenangan aliansi Sun-Liu membuahkan perpecahan di antara mereka. Mereka mulai memperebutkan Jingzhou yang ditinggalkan Cao Cao. Perebutan ini dimenangkan oleh Sun Quan, yang melakukan serangan militer ke selatan Jingzhou di bawah pimpinan Zhou Yu. Zhou Yu berencana melanjutkan ekspansi militer ke Prefektur Yizhou yang dikuasai Liu Zhang, namun ia meninggal dalam perjalanan. Lu Su yang menggantikannya menghentikan rencana ini dan meminjamkan Jingzhou kepada Liu Bei untuk pangkalan militer sementara untuk menahan kemungkinan serangan Cao Cao.
Saat ini, Liu Zhang mengundang Liu Bei untuk membantu Yizhou melawan kemungkinan ekspansi Cao Cao bila berhasil menduduki Hanzhong. Liu Bei berangkat menuju Yizhou meninggalkan Guan Yu menjaga Jingzhou. Perseteruan Liu Bei dan Liu Zhang pecah pada tahun 212, Liu Bei lalu menduduki Chengdu dan memaksa Liu Zhang menyerahkan kekuasaan Yizhou kepadanya.

Tiga negara terbentuk
Tahun 216, Cao Cao mengangkat diri sebagai Raja Wei. Setahun kemudian, Liu Bei menyerang Hanzhong yang saat itu dikuasai Cao Cao. Pengkhianatan dari dalam dan kampanye militer Sun Quan di wilayah tengah menyebabkan Cao Cao terpaksa harus mundur dari Hanzhong. Liu Bei juga mengangkat diri menjadi Raja Hanzhong pada tahun 219.

Tahun yang sama, Guan Yu memimpin pasukan menyerang Cao Cao, namun Lu Meng melakukan serangan dari belakang secara mendadak ke Jingzhou. Guan Yu berhasil ditangkap dan dibunuh oleh Lu Meng. Tahun 220, Cao Cao meninggal dunia dan digantikan oleh putranya Cao Pi. Cao Pi memaksa Kaisar Xiandi menyerahkan tahta kekaisaran lalu mendirikan Negara Wei dan bertahta dengan gelar Wendi. Setahun kemudian, Liu Bei yang mendukung kelanjutan Dinasti Han mengangkat diri sebagai kaisar dengan gelar Zhaoliedi.
Sun Quan menyatakan tunduk kepada Wei dan diangkat sebagai Raja Wu oleh Cao Pi. Tahun 221 juga, Liu Bei menyerang Sun Quan dengan tujuan membalaskan dendam Guan Yu, namun berhasil dipukul mundur oleh Lu Xun dan meninggal pada tahun 223. Liu Chan kemudian menggantikan sang ayah menjadi kaisar dengan gelar Xiaohuaidi. Sepeninggal Liu Bei, Sun Quan kembali bersekutu dengan Liu Chan untuk menahan pengaruh Cao Cao. Tiga negara resmi berdiri dan tidak akan ada satupun negara dapat menaklukkan negara lainnya selama kurun waktu 40 tahun.


Runtuhnya negara Shu Han
Sepeninggal Liu Bei, negara Shu Han melakukan ekspansi wilayah ke timur laut Shu. tepatnya kota Chang An yang dipimpin oleh Cao Hong dan Sima Yi sebagai penasihatnya. Ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan diserang dari belakang saat pelaksanaan gerakan ofensif terhadap Wei di utara. Setelah wilayah di belakang ( maksudnya daerah di Yun Nan, yang dikuasai suku bar-bar) berhasil ditenangkan, Shu Han melakukan 5 kali penyerangan ke utara di bawah pimpinan Zhuge Liang dalam kurun tahun 227 sampai 234, mulai dari Tian Shui sampai Wu Zhang dan yang berhasil dikuasai Shu Han hanya Tian Shui saja.
Zhuge Liang meninggal pada peperangan di tanah Wu Zhang atau dikenal dengan peperangan Wu Zhang Plains, dimana Zhuge Liang sebenarnya menggunakan Ba Zhen Du sebagai ilmu sihir tingkat tingginya, namun oleh Wei Yan, perwira Shu Han digagalkannya akibat pengaruh dari Sima Yi. tahun 234 lalu digantikan oleh Jiang Wei yang meneruskan ekspedisi ke utara, namun tidak menghasilkan kemenangan yang mutlak. Liu Chan yang tidak cakap memimpin mempercayakan jalannya pemerintahan kepada menteri kesayangannya Huang Hao. Jiang Wei yang mengajukan mosi tidak percaya kepadanya, malah dituduh berkhianat kepada negara. Ini menyebabkan Wei kemudian berhasil mematahkan pertahanan Hanzhong dan menyerang sampai ke Chengdu, ibu kota Shu Han. Liu Chan menyerahkan diri kepada Wei dan negara Shu Han resmi runtuh pada tahun 263.

Berdirinya Dinasti Jin
Tahun 265, menteri negara Wei, Sima Yan merebut kekuasaan dari keluarga Cao dan mendirikan negara Jin, beribu kota di Luoyang. Ia bertahta dengan gelar Kaisar Wudi. Jin kemudian merencanakan penaklukan negara Wu yang saat itu sedang kacau sepeninggal Sun Quan pada tahun 251. Tahun 279, penyerangan Wu dilancarkan dan Jin berhasil menaklukkan Wu tanpa perlawanan berarti karena moral prajurit yang rendah. Sebab utama kekalahan Wu adalah pemerintahan lalim dari kaisar Sun Hao.
Tahun 280, Tiongkok dengan resmi dipersatukan di bawah Dinasti Jin yang kerap disebut sebagai Jin Barat oleh sejarahwan. Dinasti ini akan berkuasa sampai tahun 420 sebelum Tiongkok kembali terpecah-pecah karena lemahnya kekaisaran dan serangan suku-suku barbar dari utara.

Sastra
Kata pembukaan novel Kisah Tiga Negara; Seluruh kekuatan di dunia, bersatu untuk bercerai dan bercerai untuk bersatu kembali
Zaman ini punya popularitas lebih di masyarakat luas karena Luo Guanzhong, seorang sastrawan Dinasti Ming menuliskannya sebagai latar belakang roman sejarah Kisah Tiga Negara (三國演義). Selain itu, ada pula sastra sejarah resmi Catatan Sejarah Tiga Negara (三國志) karya Chen Shou, seorang sejarahwan Dinasti Jin.

Tokoh Zaman Tiga Negara
Pada zaman ini terdapat banyak tokoh yang terkenal, terutama karena dipopulerkan oleh Kisah Tiga Negara yang telah dikisahkan ulang dalam berbagai format media modern.
Tokoh dari penghujung Dinasti Han antara lain Kaisar Xiandi,Dong Zhuo, Yuan Shao, Liu Biao, Gongsun Zan, dan Lu Bu,
Sementara tokoh dari kerajaan Cao Wei antara lain Cao Cao, Cao Pi, Sima Yi, Sima Zhao, Xiahou Dun, Xiahou Yuan, Zhang Liao, Zhang He, Dian Wei, Xu Chu, dan lain-lain.
Kemudian dari Dong Wu ada keluarga Sun: Sun Jian, Sun Ce, Sun Quan, kemudian Zhou Yu, Zhuge Jin, Lu Meng, Lu Xun, Huang Gai, Gan Ning, dan Zhou Tai.
Terakhir, dari kerajaan Shu Han ada tiga bersaudara Liu Bei, Guan Yu, Zhang Fei, lalu penasihat militer Zhuge Liang, Pang Tong, Jiang Wei, dan jenderal Zhao Yun, Ma Chao dan Huang Zhong.

Populasi
Populasi pada zaman ini dapat dirujuk kepada catatan sejarah oleh Chen Shou yang memperkirakan sekitar 8.640.000 jiwa hidup di dalam wilayah ketiga negara. Di antaranya 4.400.000 jiwa tinggal di dalam wilayah Wei, Wu dan Shu masing-masing berpopulasi 2.300.000 dan 1.940.000.[1] Wei pada dasarnya ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat karena memiliki prasyarat yang lebih daripada kedua negara lainnya seperti penguasaan ibu kota negara sebagai pusat kegiatan politik dan ekonomi.

Kisah tiga negara adalah sejarah kuno Tiongkok yang menjadi referensi dalam ilmu perang, politik dan bisnis sampai sekarang ini.