CRUSADES (Perang Salib)
Perang perebutan tanah ziarah 3 agama, Yudaisme,Kristen dan Islam
Perang korup,intrik dan saling khianat dari masing-masing pihak
Perang terpanjang yang berlangsung 4 abad dari 1.096 - 1.487
Perang perebutan wilayah, kekayaan, politik dari para raja,tuan tanah dan sultan
Ada beberapa yang bisa kita pelajari mulai dari kronogis sampai cerita kepahlawanan dan persahabatan yang terkenal dari pihak yang bertikai raja Richard The Lion Heart dari Inggris dan raja Sallahudin Al-Ayyubi dari Mesir.
Pada tahun 1095 Paus Urbanus II di Roma menerima seorang utusan Kaisar Bizantium Alexius I dari Konstantinopel yang mencari bantuan darurat untuk menghadapi ancaman bangsa Turk. Paus tersebut bertindak segera dan melangsungkan suatu perang salib dengan tujuan mengamankan akses menuju tempat-tempat suci. Sejarawan Paul Everett Pierson mengatakan kalau ia juga "berharap bahwa jika para tentara salib membantu Gereja Timur dengan mengalahkan bangsa Turk, Gereja akan bersatu kembali di bawah kepemimpinannya." Karena terinsiprasi oleh khotbah Paus Urbanus II, Peter sang Pertapa memimpin sebanyak 20.000 orang, sebagian besar petani, menuju Tanah Suci tak lama setelah Paskah tahun 1096. Ketika mereka tiba di Jerman pada musim semi tahun 1096, unit-unit tentara salib memulai pembantaian Rhineland di kota Speyer, Worms, Mainz, dan Cologne, kendati ada upaya-upaya oleh para uskup Katolik untuk melindungi orang-orang Yahudi. Para pemimpin utamanya misalnya Emicho dan Peter sang Pertapa. Aktivitas anti-Yahudi ini memiliki kisaran yang luas, mulai dari kekerasan spontan secara terbatas sampai dengan serangan militer skala penuh terhadap komunitas-komunitas Yahudi di Mainz dan Cologne. Hal ini merupakan peristiwa besar pertama terkait kekerasan anti-Yahudi di Eropa, dan dikutip oleh kaum Zionis pada abad ke-19 sebagai kebutuhan akan suatu negara Yahudi. Ketika kelompok tersebut sampai di Kekaisaran Bizantium, Kaisar Alexius mendesak mereka agar menunggu para bangsawan barat, tetapi mereka bersikeras untuk melanjutkan dan jatuh dalam suatu penyergapan oleh bangsa Turk di luar kota Nicea, di mana hanya sekitar 3.000 orang yang berhasil meloloskan diri.
Bala tentara salib yang resmi berangkat dari Perancis dan Italia pada bulan Agustus dan September 1096. Sejumlah besar pasukan tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang mana melakukan perjalanan secara terpisah menuju Konstantinopel. Jika memperhitungkan orang-orang selain pejuang, pasukan barat mungkin berjumlah sebanyak 100.000 orang. Para pasukan tersebut melakukan perjalanan ke arah timur lewat jalan darat menuju Konstantinopel, di mana mereka menerima sambutan kehati-hatian dari sang Kaisar Bizantium.Pasukan utamanya, kebanyakan terdiri dari kesatria Norman dan Perancis di bawah kepemimpinan para baron, berjanji untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang hilang kepada kekaisaran tersebut dan mereka berbaris menuju selatan melalui Anatolia. Para pemimpin Perang Salib Pertama ini misalnya Godefroy dari Bouillon, Robert Curthose, Hugues I dari Vermandois, Baudouin dari Boulogne, Tancred dari Hauteville, Raymond IV dari Toulouse, Bohemond dari Taranto, Robert II dari Flandria, dan Étienne, Comte Blois. Raja Perancis dan Heinrich IV, Kaisar Romawi Suci, saat itu sedang dalam konflik dengan sang Paus dan tidak ikut berpartisipasi.
Bala tentara salib awalnya berperang melawan bangsa Turk dalam Pengepungan Antiokhia yang berlangsung cukup lama, dimulai sejak bulan Oktober 1097 dan berakhir Juni 1098. Namun sejumlah besar pasukan Muslim yang dipimpin oleh Kerboga segera mengepung para tentara salib, yang saat itu berada di dalam Antiokhia. Bohemond dari Taranto berhasil menghimpun kembali para tentara salib itu dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni. Bohemond dan pasukannya tetap memegang kendali atas kota tersebut, kendati telah berjanji mengembalikannya kepada Alexius. Sebagian besar bala tentara salib yang tersisa itu bergerak menuju selatan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di sepanjang pesisir tersebut, dan akhirnya tiba di Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099 dengan hanya sebagian kecil dari kekuatan asli mereka.
Kaum Yahudi dan Muslim berjuang bersama-sama untuk mempertahankan Yerusalem dalam menghadapi invasi kaum Franka itu, tetapi para tentara salib berhasil masuk ke dalam kota tersebut pada tanggal 15 Juli 1099. Sebagai akibat dari Perang Salib Pertama, tercipta empat negara tentara salib yang utama: Edessa, Antiokhia, Tripoli, dan Yerusalem. Pada suatu tingkatan populer, Perang Salib Pertama dianggap melepaskan suatu gelombang amarah Katolik yang saleh dan emosional, yang mana diungkapkan dalam pembantaian orang-orang Yahudi yang mengiringi perang-perang salib tersebut dan perlakuan kejam atas kaum Kristen Ortodoks "skismatik" dari timur.
Setelah Perang Salib Pertama berlangsung yang kedua, perang salib yang kurang berhasil dan disebut Perang Salib 1101, di mana bangsa Turk yang dipimpin oleh Kilij Arslan I mengalahkan para tentara salib dalam tiga pertempuran terpisah.
Pada awal abad ke-12, praktek perang salib dengan skala yang lebih kecil terus berlangsung. Paus Kallistus II memaklumkan Perang Salib Venesia yang berlangsung pada tahun 1122–1124; kunjungan Foulques V, Comte Anjou, pada tahun 1120 dan 1129 serta Konrad III dari Jerman pada tahun 1124 menghasilkan pengakuan atas Ksatria Templar oleh Paus Honorius II. Pemberian indulgensi oleh Paus Innosensius II pada tahun 1135 atas keterlibatan dalam perang salib bagi mereka yang menentang musuh-musuh kepausan dipandang oleh beberapa sejarawan sebagai awal mula perang-perang salib yang bermotif politik. Negara-negara tentara salib pada awalnya aman, tetapiImad ad-Din Zengi, setelah ditunjuk sebagai gubernur Mosul pada tahun 1127, merebut Aleppo pada tahun 1128 dan Edessa (Urfa) pada tahun 1144. Kekalahan-kekalahan ini menyebabkan Paus Eugenius III menyerukan perang salib lainnya pada tanggal 1 Maret 1145. Perang salib baru ini didukung oleh berbagai pengkhotbah, yang paling terkenal ialah Bernardus dari Clairvaux. Para pasukan dari Perancis dan Jerman, masing-masing dipimpin oleh Raja Louis VII dan Konrad III, bergerak menuju Yerusalem pada tahun 1147 dan juga melakukan pengepungan atas Damaskus, tetapi gagal meperoleh satu pun kemenangan penting. Sementara itu sekelompok tentara salib dari Eropa utara berhenti di Portugal dan bersekutu dengan raja Portugal, yakni Afonso I, untuk merebut kembali Lisbon dari kaum Muslim pada tahun 1147. Sebuah detasemen dari grup tentara salib ini membantu Comte Ramón Berenguer IV dari Barcelona untuk menaklukkan kota Tortosa pada tahun berikutnya.
Di Tanah Suci, baik raja Perancis maupun Jerman telah kembali ke negara mereka masing-masing pada tahun 1150 tanpa ada satu pun perubahan berarti. Bernardus dari Clairvaux, yang melalui khotbah-khotbahnya mendorong keikutsertaan dalam Perang Salib Kedua, kecewa dengan terjadinya kekerasan dan pembantaian terhadap penduduk Yahudi di Rhineland. Pada tahun 1172 Heinrich sang Singa, Adipati Sachsen, melakukan suatu peziarahan yang terkadang dianggap sebagai suatu perang salib. Pada saat yang sama, bangsa Saxon dan Dane berperang melawan orang Wend dalam Perang Salib Wend. Kaum Wend mengalahkan Dane; Saxon tidak memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perang salib tersebut. Perang-perang salib terus berlanjut padahal tidak ada bulla kepausan resmi yang dikeluarkan untuk memberikan wewenang berlangsungnya perang-perang salib baru. Heinrich memulai kembali upaya untuk menaklukkan kaum Wend pada tahun 1160, dan mereka dikalahkan olehnya pada tahun 1162.
Saladin membangun suatu kesatuan kekuatan oposisi dan memberikan ancaman baru kepada negara-negara Latin. Setelah kemenangannya di Pertempuran Hattin, ia dengan mudah mengalahkan para tentara salib yang tercerai berai pada tahun 1187 dan merebut kembali Yerusalem pada tanggal 29 September tahun itu. Syarat-syarat perjanjian diatur dan kota itu menyerah; Saladin memasuki kota pada tanggal 2 Oktober. Menurut Benediktus dari Peterborough, Paus Urbanus III meninggal dunia karena kesedihan yang mendalam pada tanggal 19 Oktober 1187 setelah mendengar berita mengenai kekalahan tersebut. Pada tanggal 29 Oktober Paus Gregorius VIIImengeluarkan sebuah bulla kepausan, Audita tremendi, yang memaklumkan dilangsungkannya Perang Salib Ketiga.Friedrich I, Kaisar Romawi Suci, Philippe II dari Perancis, dan Richard I dari Inggris berencana untuk merebut Yerusalem kembali dan mereka mengorganisir pasukan masing-masing. Friedrich meninggal dunia dalam perjalanan ke Yerusalem; beberapa pasukannya dapat mencapai Tanah Suci. Dua pasukan lainnya berhasil sampai tetapi dilanda pertengkaran politik. Philippe kembali ke Perancis, meninggalkan sebagian besar pasukannya. Richard menaklukkan Pulau Siprus dari kaum Bizantium pada tahun 1191 karena para korban kapal karam termasuk saudarinya ditawan oleh penguasa pulau itu, Isaakius Komnenos. Ia kemudian merebut kembali kota Akko setelah suatu pengepungan yang lama. Bala tentara salib melakukan perjalanan ke selatan di sepanjang pantai Mediterania, mengalahkan kaum Muslim di dekat Arsuf, dan merebut kembali kota pelabuhan Yafo. Mereka telah berada di dekat Yerusalem, tetapi kekurangan perbekalan memaksa mereka untuk mengakhiri perang salib ini tanpa merebut Yerusalem. Richard meninggalkannya pada tahun berikutnya setelah menegosiasikan suatu perjanjian dengan Saladin. Ketentuan-ketentuan itu mengizinkan kaum Katolik yang tidak bersenjata untuk berziarah ke Yerusalem dan mengizinkan para pedagang untuk berdagang. Heinrich VI, Kaisar Romawi Suci, memprakarsai Perang Salib Jerman pada tahun 1197 untuk memenuhi janji-janji yang dibuat oleh ayahnya, Friedrich. Dengan dipimpin oleh Konrad dari Wittelsbach, Uskup Agung Mainz, pasukan tersebut tiba di Akko dan merebut kota Sidon dan Beirut. Namun sebagian besar tentara salib itu kembali ke Jerman setelah Heinrich meninggal dunia.
Ketika Paus Selestinus III menyerukan suatu perang salib terhadap kaum pagan di Eropa Utara pada tahun 1193, Uskup Berthold dari Hanover memimpin sejumlah besar pasukan untuk mengalahkannya dan ia meninggal dunia tahun 1198. Menanggapi kekalahan tersebut, Paus Innosensius III mengeluarkan sebuah bulla kepausan yang menyatakan suatu perang salib terhadap etnis Livonia yang mana kebanyakan menganut paganisme.Albrecht von Buxthoeven, setelah dikonsekrasi sebagai uskup pada tahun 1199, tiba pada tahun berikutnya dengan suatu kekuatan yang besar dan menjadikan Riga sebagai takhta keuskupannya pada tahun 1201. Pada tahun 1202 ia membentuk Ksatria Livonian untuk membantunya mengkonversi kaum pagan ke dalam Katolikisme dan, yang lebih penting, untuk melindungi perdagangan Jerman. Etnis Livonia tersebut ditaklukkan dan dikonversi antara tahun 1202 dan 1209. Pada tahun 1217Paus Honorius III menyatakan suatu perang salib terhadap orang Prusia, dan pada tahun 1226 Konrad I dari Masovia memberikanChelmno kepada para Ksatria Teutonik sebagai sebuah basis bagi perang salib ini. Pada tahun 1236 para Ksatria Livonia dikalahkan oleh orang Lithuania di Saule, dan pada tahun 1237 Paus Gregorius IX menggabungkan sisa-sisa dari ordo militer tersebut ke dalam Ksatria Teutonik sebagai Ordo Livonian.
Pada tahun 1249 para Ksatria Teutonik menyelesaikan penaklukan mereka atas orang Prusia Lama, dan memerintahnya sebagai paralord dari kaisar Jerman. Mereka kemudian menaklukkan dan mengkonversi orang Lithuania, suatu proses yang berlangsung sampai tahun 1380-an.[104] Ordo tersebut gagal menaklukkan bangsa Rusia Ortodoks, khususnya Republik Pskov dan Novgorod (dengan dukungan dari Paus Gregorius IX), sebagai bagian dari Perang Salib Utara. Pada tahun 1240 pasukan Novgorod mengalahkan bangsa Swedia dalam Pertempuran Neva, dan dua tahun kemudian mereka mengalahkan Ordo Livonian dalam Pertempuran di Es.
Paus Innosensius III mulai berkhotbah di Inggris, Jerman, dan khususnya Perancis, tentang apa yang kemudian menjadi Perang Salib Keempat pada tahun 1200. Ini menjadi semacam kendaraan bagi ambisi politik Doge Enrico Dandolo dari Venesia (suatu negara vasal dari Bizantium pada saat itu) dan Raja Jerman Philip dari Swabia, yang beristrikan Irene dari Bizantium. Dandolo melihat suatu kesempatan untuk memperluas kekuasaan Venesia di Timur Dekat dan melepaskan diri dari keterikatan Bizantium; Philip melihat perang salib tersebut sebagai suatu kesempatan untuk mengembalikan keponakannya yang diasingkan, Alexius IV Angelus, ke singgasana Bizantium. Meskipun para tentara salib membuat kontrak dengan orang Venesia untuk suatu armada dan perbekalan untuk mengangkut mereka ke Tanah Suci, mereka tidak mampu membayar karena jumlah ksatria yang tiba di Venesia terlalu sedikit. Karenanya mereka sepakat untuk mengalihkan perang salib ke Konstantinopel dan berbagi apa yang dapat dirampas sebagai pembayaran. Sebagai jaminannya para tentara salib merebut kota Kristen Zara pada tanggal 24 November 1202, dan mereka semua yang terlibat diekskomunikasi oleh Paus Innosensius yang terkejut karena peristiwa itu. Mereka mendapat perlawanan terbatas dalam pengepungan awal mereka atas Konstantinopel, dengan berlayar menyusuri Dardanelles dan menembus tembok-tembok laut. Alexius IV Angelus mati dicekik setelah suatu kudeta kekaisaran, sehingga menggagalkan usaha mereka, dan mereka mengulangi pengepungan itu pada bulan April 1204. Kali ini kota tersebut dijarah, gereja-gereja dirampok, dan banyak penduduk dibunuh; para tentara salib membagi kekaisaran ini menjadi berbagai fief Latin dan koloni Venesia. Yang terakhir, pertahanan La Cava dan Nikosia dititikberatkan. Pada bulan April 1205 para tentara salib dikalahkan oleh kaum Bulgar dan sisa-sisa orang Yunani di Adrianopel, di mana Kaloyan dari Bulgaria menangkap dan memenjarakan kaisar Latin yang baru, yaitu Baudouin dari Flandria. Kendati menyesalkan tindakan-tindakan itu, kepausan tersebut pada awalnya mendukung penyatuan kembali gereja-gereja Timur dan Barat secara paksa. Perang Salib Keempat secara efektif menyebabkan adanya dua Kekaisaran Romawi di Timur: suatu kekaisaran Latin di selat tersebut (Konstantinopel) yang bertahan sampai tahun 1261 dan suatu enklave Bizantium yang memerintah dari Nicea, yang mana kemudian berhasil menguasainya kembali dengan memanfaatkan tidak adanya armada Venesia. Bagaimanapun Venesia adalah pewaris atau penerima manfaat satu-satunya.
Meskipun Perang Salib Albigensian dilangsungkan pada tahun 1208 untuk mengatasi kaum Katar (Albigens) dari Ositania(Perancis selatan masa kini), perjuangan panjang selama beberapa dekade menyimpan banyak keinginan dari Perancis utara untuk memperluas kontrolnya ke selatan sebagaimana dilakukannya dengan memerangi bidah tersebut. Kaum Katar akhirnya berhasil dihalau ke bawah tanah, dan Perancis selatan kehilangan kemerdekaannya. Pada tahun 1221 Paus Honorius III meminta Raja András II untuk mengatasi para bidat di Bosnia, dan pasukan Hungaria menanggapi tambahan permintaan kepausan pada tahun 1234 dan 1241; kampanye yang belakangan berakhir dengan adanya invasi Mongol di Hungaria pada tahun 1241. Gereja Bosnia merupakan Katolik secara teologis, tetapi skismanya dengan Gereja Katolik Roma berlangsung hingga melewati akhir Abad Pertengahan. Paus Innosensius III menyatakan bahwa suatu perang salib baru akan dimulai pada tahun 1217, dan ia menyelenggarakan Konsili Lateran IV pada tahun 1215. Tentara salib ini sebagian besar berasal dari Jerman, Flandria, dan Frisia, dengan sejumlah besar pasukan dari Hungaria yang dipimpin oleh András II dan pasukan tambahan yang dipimpin oleh Adipati Luitpold VI dari Austria. András dan Luitpold tiba di Akko pada bulan Oktober 1217, namun hanya sedikit hasil yang dicapai dan András kembali ke Hungaria pada bulan Januari 1218. Setelah kedatangan lebih banyak tentara salib, Luitpold dan Raja YerusalemJean dari Brienne mengepung Damietta di Mesir; mereka merebutnya pada bulan November 1219. Upaya-upaya lanjutan oleh Pelagio Galvani, seorang legatus kepausan, untuk bergerak lebih jauh ke Mesir tidak membuahkan hasil.Karena diblokir oleh pasukan Sultan Ayyubiyyah Al-Kamil, para tentara salib terpaksa menyerah. Al-Kamil memaksa dikembalikannya Damietta, setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 8 tahun, dan para tentara salib meninggalkan Mesir.
Selama musim panas tahun 1244 pasukan Khwarezmia yang dikirim oleh putra al-Kamil, yaitu as-Salih Ayyub, menyerang dan mengambil alih Yerusalem. Kaum Franka bersekutu dengan Ismail, paman Ayyub, dan al-Mansur Ibrahim, amir dari ?im?; pasukan gabungan mereka memasuki pertempuran di La Forbie di Gaza. Pasukan salib dan sekutunya dikalahkan dalam waktu 48 jam oleh pasukan Khwarezmia. Raja Louis IX dari Perancis mengorganisir suatu perang salib setelah mengambil salib tersebut pada bulan Desember 1244, memberitakan dan melakukan perekrutan antara tahun 1245 sampai 1248. Pasukan Louis berlayar dari Perancis pada bulan Mei 1249, mendarat di Mesir dekat Damietta pada tanggal 5 juni 1249. Setelah banjir dari sungai Nil surut, pasukan tersebut bergerak ke pedalaman pada bulan November dan pada bulan Februari telah berada di dekat Mansura. Mereka dikalahkan, dan Louis ditangkap saat ia mundur kembali ke Damietta. Ia ditebus dengan harga 800.000 bezant, dan disepakati suatu gencatan senjata selama 10 tahun. Louis pergi ke Suriah, menetap di sana sampai tahun 1254 untuk memperkuat dan memperkokoh kerajaan Yerusalem. Setelah berulang kali melanggar sumpahnya dalam perang salib, Kaisar Friedrich II diekskomunikasi. Ia akhirnya berlayar dari Brindisi, mendarat di Akko pada bulan September 1228 setelah suatu perhentian di Siprus. Friedrich menyepakati suatu perjanjian damai dengan Al-Kamil yang mana memungkinkan kaum Kristen Latin untuk menguasai sebagian besar Yerusalem dan sejalur wilayah dari Akko menuju Yerusalem, dengan kaum Muslim menguasai daerah-daerah suci mereka di Yerusalem. Sebagai imbalannya, Friedrich berjanji untuk melindungi Al-Kamil terhadap semua musuh sekalipun mereka kaum Kristen. Setelah perang salib ini ada suatu upaya oleh Raja Thibaut I dari Navarre pada tahun 1239 dan 1240, yang berawal dari panggilan Paus Gregorius IX pada tahun 1234 untuk kembali berhimpun pada bulan Juli 1239 setelah gencatan senjata berakhir. Selain Thibaut, Peter dari Dreux, Hugues dari Bourgogne dan bangsawan Perancis lainnya juga berpartisipasi. Mereka tiba di Akko pada bulan September 1239; setelah suatu kekalahan pada bulan November, Thibaut mengatur suatu perjanjian dengan kaum Muslim yang mana mengembalikan wilayah kepada negara-negara yang tergabung dalam perang salib tetapi menyebabkan ketidakpuasan di kalangan tentara salib. Thibaut kembali ke Eropa pada bulan September 1240; Richard dari Cornwall, adik Raja Henry III dari Inggris, mengambil salib tersebut dan tiba di Akko pada bulan berikutnya. Setelah menegakkan perjanjiannya Thibaut, Richard meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke Eropa pada bulan Mei 1241.Pada tahun 1256 orang Venesia terusir dari Tirus, menggerakkan terjadinya Perang Santo Sabas atas wilayah di Akko yang diklaim oleh Genoa dan Venesia. Meskipun orang Venesia menaklukkan wilayah yang disengketakan itu (dengan menghancurkan benteng pertahanan Santo Sabas), mereka tidak dapat mengusir orang Genoa. Selama blokade 14 bulan, Genoa bersekutu dengan Philippe dari Montfort, John dari Arsuf, dan Ksatria Hospitaller; sementara Venesia didukung oleh Comte Yafo dan Ksatria Templar. Pada tahun 1261 orang Genoa dapat diusir tetapi Paus Urbanus IV, karena khawatir atas dampak perang tersebut pada pertahanan terhadap orang Mongol, mengorganisir suatu konsili perdamaian. Konflik tersebut berlanjut pada tahun 1264 ketika orang Genoa mendapat bantuan dari Mikhael VIII Palaiologos, Kaisar Nicea, dan Venesia tidak berhasil dalam usahanya menaklukkan Tirus. Kedua belah pihak menggunakan serdadu Muslim (terutama Turkopol) untuk melawan musuh Kristen mereka, dan orang Genoa menjalin aliansi dengan Sultan Mesir Baibars. Perang ini secara signifikan mengganggu kemampuan kerajaan tersebut dalam menghadapi ancaman eksternal. Selain bangunan-bangunan keagamaan, kebanyakan bangunan berkubu di Akko dihancurkan; pada satu titik, kota itu dikatakan tampak seperti telah dirusak oleh pasukan Muslim. Menurut Rothelin, yang melanjutkan Sejarah karya William dari Tirus, 20.000 orang tewas dalam konflik tersebut (sementara negara-negara tentara salib sangat kekurangan prajurit). Perang ini berakhir pada tahun 1270, dan pada tahun 1288 Genoa mendapatkan kembali kawasannya di Akko.
Charles menghabiskan hidupnya dengan upaya-upaya untuk menghimpunkan suatu kekaisaran
Mediterania; ia dan Louis memandang diri mereka sebagai instrumen Allah untuk menegakkan kepausan. Louis IX mengabaikan para penasihatnya sehingga pada tahun 1270 ia kembali menyerang bangsa Arab di Tunis. Cuacanya panas, dan pasukannya hancur oleh penyakit. Louis meninggal dunia, sehingga mengakhiri upaya besar yang terakhir untuk mengambil alih Tanah Suci. Dari tahun 1265 sampai 1271, para mamluk yang dipimpin oleh Sultan Baibars mendesak kaum Franka ke beberapa pos pesisir kecil. Yang kemudian menjadi Edward I dari Inggris berjanji untuk ikut serta dengan Louis IX dalam perang salib, namun ia terlambat dan baru sampai di Afrika Utara pada bulan November 1270. Setelah wafatnya Louis, Edward pergi ke Sisilia dan kemudian ke Akko pada bulan Mei 1271. Bagaimanapun pasukannya kecil, dan ia tidak senang dengan gencatan senjata antara Baibars dan Raja Hugues dari Yerusalem. Edward belajar dari kematian ayahnya dan suksesinya ke singgasana terjadi pada bulan Desember 1272, tetapi ia tidak kembali ke Inggris hingga tahun 1274 (walau ia meraih sedikit pencapaian di Tanah Suci). Konklaf pada tahun 1281 yang memilih seorang paus Perancis, yaitu Paus Martinus IV, membawa kekuasaan kepausan sepenuhnya ke lini belakang Charles. Ia berkampanye di Albania dan Akhaya, namun tidak berhasil, menjelang persiapan untuk melangsungkan perang salibnya (dengan 400 kapal yang membawa 27.000 ksatria berkuda) terhadap Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos bersekutu dengan Pero III dari Aragon untuk memicu suatu pemberontakan, yang kemudian disebut Vespers Sisilia, di mana armada kapal tentara salib ditinggalkan dan dibakar. Orang-orang Sisilia mengangkat Pero sebagai raja, dan Wangsa Anjou Kapetia diasingkan dari Sisilia. Paus Martinus mengekskomunikasi Pero dan melangsungkan suatu perang salib terhadap Aragon sebelum Charles wafat pada tahun 1285, yang mana memungkinkan Henri II dari Siprus untuk merebut kembali Yerusalem. Salah satu faktor kemunduran para tentara salib adalah perpecahan dan konflik seputar kepentingan kaum Kristen Latin di Mediterania timur. Paus Martinus dipandang membahayakan kepausan dengan mendukung Charles dari Anjou, dengan ceroboh melangsungkan "perang-perang salib" sekuler terhadap Sisilia dan Aragon sehingga menodai gemerlap spiritualnya. Jatuhnya otoritas moral kepausan dan bangkitnya nasionalisme membunyikan lonceng kematian bagi praktek perang salib, yang akhirnya mengarah pada Kepausan Avignon dan Skisma Barat. Perang Salib Aragon dinyatakan oleh Paus Martinus terhadap Pero III pada tahun 1284 dan 1285, di mana Pero mendukung pasukan anti Angevin ("dari Anjou") di Sisilia setelah Vespers Sisilia dan Paus Martinus mendukung Charles dari Anjou. Paus Bonifasius VIII menyatakan suatu perang salib terhadap Federico III dari Sisilia (putra bungsu Pero) pada tahun 1298, namun ia tidak mampu menghalangi pengakuan dan pemahkotaan Federico sebagai raja Sisilia.Pada tahun 1266 saudara Louis IX, Charles, merebut Sisilia yang sebelumnya menguasai sebagian daerah di Laut Adriatik timur, yaituKerkyra, kota-kota Butrinto, Avlona, dan Suboto. Perjanjian Viterbo disepakati dengan pengasingan Baudouin II dari Konstantinopel danGuillaume dari Villehardouin; para ahli waris dari kedua pangeran Latin ini akan dinikahkan dengan anak-anak Charles, dan jika tidak ada ahli waris maka Charles akan memperoleh kepangeranan dan kekaisaran tersebut. Charles memalingkan perang salib saudaranya demi kepentingannya sendiri, ia membujuk Louis untuk mengarahkan yang disebut Perang Salib Kedelapan itu untuk melawan vasal yang memberontak dari Charles, yakni Tunis. Namun wafatnya Louis, penyakit yang menyebar di kalangan tentara salib, dan badai yang menghancurkan armada kapalnya memaksa Charles untuk menunda rencana yang telah disusunnya atas Konstantinopel. Mikhael VIII Palaiologos khawatir dengan perang salib yang telah direncanakan Charles untuk memulihkan Kekaisaran Latin, yang mana telah jatuh pada tahun 1261, dan terhadap ekspansi Charles di Mediterania. Rencana Charles tertunda karena Michael memulai negosiasi dengan Paus Gregorius X demi persatuan gereja-gereja Yunani dan Latin. Dalam Konsili Lyon II, penyatuan gereja-gereja tersebut dideklarasikan sehingga Charles dan Philippe dari Courtenay terpaksa menjalin gencatan senjata dengan kaum Bizantium. Penyatuan ini nantinya terbukti tidak dapat diterima oleh kalangan Yunani. Michael juga mendanai Genoa untuk mendorong pemberontakan di wilayah-wilayah Italia utara yang dikuasai Charles. Pada tahun 1268 Charles mengeksekusi Konradin, cicit Isabella dari Jerusalem dan pretenderutama atas singgasana Yerusalem, ketika ia merebut Sisilia dari Kekaisaran Romawi Suci. Charles membeli hak penguasaan Yerusalem dari Maria dari Antiokhia, satu-satunya cucu yang masih hidup dari Ratu Isabella, sehingga menciptakan suatu klaim untuk menandingiHugues III dari Siprus (cicit Isabella).Tanah daratan negara-negara Tentara Salib dari outremer tersebut lenyap dengan jatuhnya Tripoli pada tahun 1289 dan Akko pada tahun 1291. Kebanyakan kaum Kristen Latin yang tersisa pergi ke berbagai tempat tujuan dalam Frankokratia ("pemerintahan Franka"), dibunuh, atau diperbudak. Upaya-upaya praktek perang salib kecil masih ada pada abad ke-14; Pierre I dari Siprus merebut dan menjarah Aleksandria pada tahun 1365 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Salib Aleksandria, namun motivasinya lebih kepada kepentingan ekonomi daripada religius. Louis II memimpin Perang Salib Mahdiya untuk melawan bajak laut Muslim di Afrika Utara; setelah pengepungan selama 10 minggu, para tentara salib menyepakati gencatan senjata selama 10 tahun.
Sejumlah perang salib dilangsungkan selama abad ke-14 dan ke-15 untuk menghadapi ekspansi Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah); yang pertama (pada tahun 1396) dipimpin oleh Sigismund dari Luxemburg, raja Hungaria. Banyak bangsawan Perancis yang bergabung dengan Sigismund, misalnya Jean II dari Bourgogne (putra Adipati Bourgogne). Kendati Sigismund menyarankan para tentara salib untuk berfokus pada pertahanan ketika mereka sampai di Donau, mereka mengepung kota Nikopol. Ottoman mengalahkan mereka dalam Pertempuran Nikopolispada tanggal 25 September, menawan 3.000 orang.[143] Perang Salib Hussit, dikenal juga dengan sebutan Peperangan Hussit atau Peperangan Bohemian, merupakan aksi militer terhadap pengikut Jan Hus di Bohemia dari tahun 1420 sampai 1431. Berbagai perang salib dinyatakan sebanyak lima kali selama periode ini: tahun 1420, 1421, 1422, 1427, dan 1431. Ekspedisi-ekspedisi tersebut memaksa pasukan Hussit, yang mana tidak setuju dengan banyak hal doktrinal, untuk bersatu mengusir penjajah. Peperangan ini beakhir tahun 1436 dengan ratifikasiCompactata Iglau oleh Gereja.[144]
Raja Polandia-Hungaria Wladyslaw Warnenczyk menyerang wilayah yang baru ditaklukkan Ottoman, sampai ke Beograd pada bulan Januari 1444; Sultan Murad II menolak suatu negosiasi gencatan senjatan beberapa hari setelah ratifikasinya. Upaya-upaya lanjutan oleh para tentara salib berakhir dalam Pertempuran Varna pada tanggal 10 November, suatu kemenangan mutlak Ottoman yang menyebabkan mundurnya para tentara salib. Penarikan ini, menyusul upaya terakhir pihak Barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium, mengakibatkan kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453. János Hunyadi dan Yohanes dari Capistrano mengorganisir suatu perang salib pada tahun 1456 untuk membebaskan Beograd dari pengepungan Ottoman. Pada bulan April 1487 Paus Innosensius VIII menyerukan suatu perang salib terhadap kaum Waldensian dari Savoy, Piemonte, dan Dauphiné di Perancis selatan dan Italia utara. Satu-satunya upaya yang benar-benar dilakukan, yang mana menghasilkan sedikit perubahan, adalah di Dauphiné.
Perang Salib Pertama mendirikan empat negara tentara salib yang pertama di Mediterania Timur: County Edessa (1098–1149), Kepangeranan Antiokhia (1098–1268), Kerajaan Yerusalem (1099–1291), dan County Tripoli (1104—kendati Tripoli belum ditaklukkan hingga 1109—sampai 1289). Kerajaan Armenia Kilikia telah ada sebelum Perang-perang Salib, tetapi status kerajaan diperolehnya dari Paus Innosensius III dan kemudian mendapat pengaruh barat sepenuhnya oleh Wangsa Lusignan. Menurut sejarawan Jonathan Riley-Smith, negara-negara ini merupakan contoh awal dari "Eropa di luar negeri". Mereka umumnya dikenal dengan sebutan outremer, dari bahasa Perancis outre-mer ("luar negeri", bahasa Inggris: overseas).
Perang Salib Keempat mendirikan sebuah Kekaisaran Latin di timur dan memungkinkan pembagian wilayah Bizantium oleh para pesertanya. Kaisar Latin mengendalikan seperempat wilayah Bizantium, Venesia tiga perdelapannya (termasuk tiga perdelapan kota Konstantinopel), dan sisanya dibagi-bagi di antara para pemimpin perang salib lainnya. Peristiwa ini mengawali periode sejarah Yunani yang dikenal sebagai Frankokratia atau Latinokratia ("pemerintahan Franka [atau Latin]"), sedangkan para bangsawan Eropa Barat Katolik—terutama dari Perancis dan Italia—mendirikan negara-negara di bekas wilayah Bizantium dan memerintah bangsa Yunani Bizantium Ortodoks di wilayah-wilayah tersebut. Partitio terrarum imperii Romaniae merupakan suatu catatan penting tentang properti keluarga dan pembagian administratif Bizantium (episkepsis) pada awal abad ke-13.
Peninggalan Perang salib
Asimilasi budaya dan penduduk, banyak yang perlu kita ketahui dalam perang salib terjadi proses asimilasi penduduk Turki yang kita ketahui sekarang adalah penduduk campuran antara orang eropa,persia dan arab.
Orang Eropa Barat yang berada di Timur mengadopsi adat istiadat setempat, memandang diri mereka sebagai warga dari rumah baru mereka dan terjadi perkawinan campur. Hal ini menyebabkan adanya orang-orang dan budaya yang diturunkan dari sisa-sisa penduduk Eropa di negara-negara tentara salib, terutama kaum Levantin Perancis di Lebanon, Palestina, dan Turki. Para pedagang darirepublik maritim di sekitar Laut Tengah atau Mediterania (Venesia, Genoa, Ragusa) melanjutkan kehidupan mereka di Konstantinopel,Smirna, dan bagian-bagian lain Anatolia serta pantai Mediterania timur selama pertengahan era Bizantium dan Ottoman. Orang-orang ini, yang dikenal dengan sebutan Franko-Levantin (Levantin Perancis; Frankolevantini; bahasa Italia: Levantini; bahasa Yunani:F?a????eßa?t????; dan bahasa Turki: Levantenler, Tatlisu Frenkleri), merupakan umat Katolik Roma.
Adanya sikap kritis terhadap gereja
Perang-perang Salib pada saat itu mempengaruhi sikap Gereja Barat terhadap peperangan; panggilan secara rutin untuk melangsungkan perang salib dikatakan membiasakan para klerus terhadap tindak kekerasan. Mereka juga memicu suatu perdebatan seputar legitimasi merebut tanah dan kepemilikan dari kaum pagan dengan alasan murni keagamaan yang mana kembali muncul ke permukaan selamaZaman Penjelajahan pada abad ke-15 dan ke-16. Kebutuhan akan praktek perang salib mendorong perkembangan pemerintahan sekuler, yang mana tidak semuanya berdampak positif; sumber daya yang digunakan dalam peperangan seharusnya dapat digunakan oleh negara-negara berkembang untuk kebutuhan lokal maupun regional.
Karena prestise dan kekuasaannya diangkat oleh Perang-perang Salib, kuria kepausan pada saat itu menjadi memiliki kendali yang lebih besar atas Gereja barat dan memperluas sistem perpajakan kepausan melalui struktur gerejawi Barat. Sistem indulgensi bertumbuh signifikan di Eropa pada abad pertengahan akhir dan memicu Reformasi Protestan pada awal abad ke-16.
Berkembangnya sikap antisemitisme di eropa
Meskipun Perang Salib Albigensian dimaksudkan untuk menghilangkan Katarisme di Languedoc, namun Perancis mengakuisisi daratan dengan ikatan bahasa dan budaya yang lebih dekat dengan Catalunya. Perang salib ini juga berperan dalam pembentukan dan pelembagaan Ordo Dominikan dan Inkuisisi Abad Pertengahan. Penganiaan terhadap orang Yahudi dalam Perang Salib menjadi bagian dari sejarah panjang antisemitisme di Eropa. Kebutuhan untuk meningkatkan, mengangkut, dan mensuplai pasukan dalam jumlah besar menyebabkan kenaikan aktivitas perdagangan antara Eropa dan outremer tersebut. Genoa dan Venesia mengalami perkembangan dengan adanya koloni-koloni perdagangan yang menguntungkan di negara-negara tentara salib di Tanah Suci dan (kemudian) di wilayah Bizantium yang direbutnya.
Pertempuran 2 raja kuat dari Inggris yaitu Richard 'The Lion Heart' melawan Raja Salahuddin Al Ayyubi 'The Wise Man' yang melegenda, bukan hanya karena hebatnya pertempuran itu tapi juga kisah persahabatan antara 2 raja.
1. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : “Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi “
2. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.
3. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran
4. Ketika ada salah satu panglima perang saladin memberontak, Richard membunuhnya dan menyerahkan kepalanya pada saladin serta berkata, “Aku tidak ingin orang ini mengacaukan “permainan” kecil kita”. Dan keesokan harinya mereka bertempur sengit.
5. Pernah dalam suatu pertempuran, Richard melihat bahwa pedang saladin tumpul dan dia menghentikan perang hari itu untuk memberikan kesempatan agar saladin mengasahnya
6. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?
7. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.
8. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir
9. Kekalahan pasukan Arab lebih sering karena mereka terpancing melakukan serangan terbuka melawan kavaleri berat Eropa. Dimana disiplin serta pengalaman tempur sukarelawan Jihad kalah jauh dari satuan tempur veteran Eropa khususnya ordo-ordo militer seperti Templar, Hospitallers dan Teutonic Knight.
10. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack
11. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.
12. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.
Sebenarnya motif perang salib yang utama adalah perebutan wilayah dan kekayaan dengan bumbu agama. Yerusalem kota yg dihancurkan dan dibangun lebih dari 40 kali. Yerusalem adalah kota politik, budaya,agama dan simbol.
Perang salib adalah sejarah panjang yg penuh pelajaran bijak untuk kita semua bahwa hal sia-sia kan menghasilkan kesia-siaan belaka. Manusia selalu menggunakan agama,suku dan ras sebagai pembenar untuk ambisi dan nafsu pribadinya. Semoga kita dalam lingkungan yang modern dan intelek dapat mengambil hikmah positif dalam segala hal bahwa dalam perbedaan kita perlu saling menghormati dan menjaga perdamaian yang mahal ini.
Saya tutup tulisan ini dengan kata
Shallom Alechem
Assalam mualaikum
Maybe peace be upon you
Semoga damai beserta kita semua











No comments:
Post a Comment